8 Mei : Mengenang Kematian Marsinah

Sukabumi, infokowasi.com – Marsinah buruh PT Catur Putera Surya ( CPS) pabrik arloji di Siring, Porong, Jawa Timur, Buruh PT CPS digaji Rp 1.700 per bulan.

Padahal berdasarkan KepMen 50/1992, diatur bahwa UMR Jawa Timur ialah Rp 2.250.

Pemprov Surabaya meneruskan aturan itu dalam bentuk Surat Edaran Gubernur KDH Tingkat I Jawa Timur, 50/1992, isinya meminta agar para pengusaha menaikan gaji buruh 20 persen.

Kebanyakan pengusaha menolak aturan tersebut, termasuk PT CPS. Bianto, rekan Marsinah, menuturkan manajemen PT CPS hanya mau mengakomodasi kenaikan upah dalam tunjangan,bukan upah pokok. Permasalahannya, jika buruh tak masuk kerja karena alasan sakit atau melahirkan, tunjangannya akan dipotong.

Negosiasi antara buruh dengan pengusaha mengalami kebuntuan. Karena itu, buruh PT CPS menggelar mogok kerja pada 3 Mei 1993. Ada 150 dari 200 buruh perusahaan itu yang mogok kerja.

Seperti  diungkap dalam laporan investigasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia ( YLBHI) bertajuk Kekerasan Penyidikan dalam kasus Marsinah (1995), pengorganisasian para buruh sebenarnya sudah matang beberapa hari mrnjelang mogok kerja.

” Tidak usah kerja. Teman- teman tidak usah masuk. Biar Pak Yudi sendiri yang bekerja,” kata Marsinah, sebagaimana tercatat dalam Elegi Penegakan Hukum: Kisah Sum Kuning, Prita, Hinga Janda Pahlawan 2010). Yadi yang dimaksud adalah Direktur PT CPS, Yudi Susanto.

Mereka mrmbawa 12 tuntutan. Mulai dari menuntut hak kenaikan upah 20 persen hingga membubarkan orgsnisasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) di tingkat pabrik. SPSI adalah satu- satunya orgsnisasi buruh yang dinyatakan legal oleh rezim otiriter Soeharto. Bianto,menjelaskan bahwa kala itu reputasi SPSI buruk dan nyaris selalu berseberangan dengan kebutuhan kolektif buruh.

Baca Juga :  Update Covid-19 Warga Purwakarta 15 Orang Positif

” Sementara bagi SPSI, serikat buruh adalah mitra bagi perusahaan. Satu kondisi yang sebenarnya terjadi karena SPSI disetir oleh kekusaan Orde Baru,” ujar Bianto .

Marsinah ambil alih komando saat aksi mogok hari pertama, Yudo Prakoso, koordinator aksi, ditangkap dan dibawa ke Kantor Koramil 0816/04 Porong. Ketegangan perlahan mulai mengalir deras.

Dia diinterogasi karena telah mengirganisasi pemogokan dan dituduh melakukan protes dengan cara yang mirip aksi Partai Komunis Indonesia (PKI). Sorenya, Prakoso kembali ke pabrik karena dipaksa aparat Koramil.

Migok kerja di hari pertama itu tak mempan. Prakoso disibukan dengan pemanggilan oleh aparat militer. Akhirnya Marsinah yang memegang kendali memimpin protes para buruh.

Keesokan harinya, pada 4 Mei 1993, aksi mogok kerja kembali digelar. Pihak manajemen PT CPS berbegosiasi dengan 15 orang perwakilan buruh. Dalam perundingan hadir pula petugas dari Dinas Tenaga Kerja, petugas Kecamatan Siring, serta perwakilan polisi dan Koramil. Pelibatan aparat negara dalam perundingan itu menimbulkan kecanggungan.

Meski begitu, semua tuntutan akhirnya dikabulkan, kecuali membubarkan SPSI di tungkat pabrik. Pimpinan perusahaan menganggap hal itu menjadi wewenang internal SPSI.

Namun di hari itu juga, berdasarkan kronologi yang dirangkai komiteu solidaritas untuk Marsinah (KSUM), Yudo Prakoso, buruh yang dianggap dalang pemogokan, mendapat surat panggilan dari Koramil Porong. Dalam surat bernomor B/1011V/ 1993 itu, Prakoso diminta datang kekantor Kodim 0816 Sidoarjo. Surat itu di tanda tangani Pasi Intel Kodim Sidoarjo Kapten Sugeng.

Baca Juga :  Akademisi IPB: Idul Adha Tahun Ini Momentum Untuk Menerapkan Permentan Nomor 114 Tahun 2014

Di Kodim Sidoarjo, Prakoso juga diminta untuk mencatat nama- nama buruh yang terlibat dalam perencanaan 12 tuntutan dan aksi mogok kerja.

Esoknya,12 buruh mendapat surat yang sama. Mereka diminta hadir ke Kantor Kodim Sidoarjo, menghadap pasi Intel Kapten Sugeng. Tapi surat panggilan itu berasal dari kantor Kelurahan Siring yang ditandatangani sekretaris desa bernama Abdul Rozak.

Tiga belas buruh itu dikumpulkan di ruang data Kodim Sidoarjo oleh seorang perwira Seksi Intel Kodim Kamadi. Tanpa basa-basi, Kamadi meminta Prakoso dan 12 buruh lain mengundurkan diri dari PT CPS. Alasannya, tenaga mereka sudah tak dibutuhkan lagi oleh perusahaan.

Kamadi dan Sugeng menyiapkan surat pengunduran diri yang menyatakan 13 buruh itu telah melakukan rapat ilegal untuk merencanakan 12 tuntutan dan aksi mogok kerja. Mereka dianggap telah menghasut buruh lainnya untuk ikut protes. Berada dalam tekanan, akhirnya 13 buruh itu menandatangani surat pengunduran diri.

PHK itu tak dilakukan pihak perusahaan melainkan oleh aparat Kodim Sidoarjo.

Berdasarkan laporan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), emosi Marsinah mrmuncak ketika tahu rekannya dipaksa mengundurkan diri. Dia meminta salinan surat pengunduran diri tersebut dan surat kesepakatan itu, 12 tuntutan buruh diterima termasuk poin tentang oengusaha dilarang melakukan mutasi,intimidasi,dan melakukan PHK Karyawan setelah aksi mogok kerja.

Baca Juga :  Masyarakat Kampung Bangbayang Sambut 10 Muharam 1442 H

“Aku akan menuntut Kodim dengan bantuan saudaraku yang ada di surabaya,” kata Marsinah merujuk koleganya yang bekerja di Kejaksaan Surabaya.

6 Mei 1993, sehari setelah para buruh dipanggil ke  Kodim, adalah libur nasional untuk memperingati Hari Raya Waisak. Esoknya buruh kembali bekerja,tapi tak ada satupun yang melihat Marsinah. Beberapa rekannya mengira Marsinah pulang kampung ke Nganjuk.

Pada 8 Mei 1993, tepat hari ini 25 tahun lalu, Marsinah ditemukan sudah tak bernyawa di sebuah gubuk pematang sawah di Desa Jagong, Nganjuk. Jenazahnya divisum Rumah Sakit Umum Daerah Nganjuk pimpinan Dr. Jekti Wibowo.

Hasil visum et repertum menunjukan adanya luka robek tak teratur sepanjang 3 cm dalam tubuh Marsinah. Luka itu menjalar  mulai dari dinding kiri  lubang kemaluan sampai ke dalam rongga perut. Di dalam tubuhnya ditemukan serpihan dan tulang pinggul bagian depan hancur. Selain itu, selaput dara Marsinah robek. Kandung kencing dan usus bagian bawah memar. Rongga oerut mengalami pendarahan kurang lebih satu liter.

Setelah dimakamkan, tubuh Marsinah diotopsi kaembali. Visum kedua dilakukan tim dokter dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Menurut hasil visum, tulang pinggul bagian depan hancur. Tulang kemaluan kanan patah. Tulang usus kanan patah sampai terpisah. Tulang selangkangan kanan patah seluruhnya.

Labia minora kiri robek dan ada sepihan tulang.ada luka di bagian dalam alat kelamin sepanjang 3 sentimeter. Juga pendarahan di dalam rongga perut.

Laporan: Dadan Haekal
Editor : WD

Print Friendly, PDF & Email

Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here