Infokowasi.com — Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) ke-156 Tahun 2026 tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang daerah, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat identitas budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.
Salah satu rangkaian kegiatan yang membawa semangat tersebut adalah Upacara Sekar Budaya, sebuah agenda yang mengangkat kekayaan seni, tradisi, serta kearifan lokal Sukabumi. Di balik pelaksanaannya, terdapat peran penting Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Sukabumi, khususnya dalam memastikan nilai-nilai kebudayaan daerah tetap hadir di tengah kemeriahan perayaan HJKS.
Meski secara keseluruhan rangkaian event HJKS ke-156 melibatkan koordinasi lintas perangkat daerah dan promosi kegiatan banyak dilakukan bersama Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sukabumi, Sekar Budaya memiliki karakter tersendiri.
Kegiatan tersebut bukan sekadar bagian dari agenda seremonial HJKS. Lebih dari itu, Sekar Budaya menjadi wadah untuk memperkenalkan, mempertahankan, sekaligus menghidupkan kembali tradisi dan kearifan lokal yang menjadi bagian penting dari jati diri masyarakat Sukabumi.
Melalui bidang kebudayaan yang berada di bawah naungan Disbudpora, berbagai unsur budaya lokal mendapat ruang untuk ditampilkan kepada masyarakat. Seni tradisi, nilai-nilai budaya, hingga ekspresi kebudayaan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari semangat Sekar Budaya.
Sekar Budaya menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, ekonomi, maupun pariwisata. Ada warisan budaya yang juga harus dijaga agar tidak tergerus perubahan zaman.
Karena itu, kehadiran Disbudpora dalam kegiatan tersebut memiliki posisi strategis. Pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menyimpan warisan masa lalu, tetapi harus mampu menghadirkannya kembali dalam kehidupan masyarakat, terutama kepada generasi muda.
Di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, ruang-ruang kebudayaan seperti Sekar Budaya menjadi penting. Generasi muda dapat mengenal akar tradisinya, sementara masyarakat secara lebih luas dapat melihat bahwa kekayaan budaya Sukabumi memiliki nilai yang layak dibanggakan.
Momentum HJKS ke-156 pun menjadi kesempatan untuk mempertemukan berbagai kepentingan tersebut. Pariwisata dapat mengangkat daya tarik daerah, sementara kebudayaan memberikan ruh dan identitas yang membuat Sukabumi memiliki karakter tersendiri.
Dengan demikian, kolaborasi antara perangkat daerah dalam rangkaian HJKS bukan sekadar pembagian tugas kepanitiaan. Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun citra Sukabumi yang tidak hanya memiliki potensi wisata dan ekonomi, tetapi juga kaya akan seni, tradisi, sejarah, dan kearifan lokal.
Sekar Budaya pada akhirnya bukan hanya tentang menampilkan budaya, tetapi tentang menjaga agar budaya tetap hidup.
Semangat itulah yang diharapkan terus tumbuh dalam setiap peringatan HJKS. Sebab, ketika sebuah daerah mampu merawat budayanya, maka daerah tersebut sesungguhnya sedang menjaga identitas dan jati dirinya untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui HJKS ke-156, Sukabumi tidak hanya merayakan usia daerah, tetapi juga kembali menegaskan bahwa kekayaan budaya lokal merupakan bagian penting dari perjalanan masa lalu, kehidupan hari ini, sekaligus fondasi bagi masa depan.









