Infokowasi.com — Makanan bergizi kerap dianggap identik dengan harga mahal. Padahal, pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga sejatinya dapat dilakukan dengan bahan pangan sederhana, mudah ditemukan, aman, sekaligus ramah di kantong.
Pesan itulah yang kini digaungkan Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Sukabumi melalui kampanye “Bergizi Tidak Harus Mahal”.
Kampanye tersebut menjadi bagian dari upaya DKP Kabupaten Sukabumi dalam mengedukasi masyarakat agar semakin cerdas memilih, mengolah, dan mengonsumsi pangan. Bukan sekadar mengejar rasa kenyang, masyarakat juga didorong untuk memperhatikan keseimbangan gizi, keamanan pangan, serta efisiensi dalam mengelola anggaran rumah tangga.
Melalui kampanye ini, ketahanan pangan tidak hanya dipandang dari ketersediaan bahan makanan, tetapi juga bagaimana setiap keluarga mampu memenuhi kebutuhan pangan bergizi secara mandiri, aman, beragam, dan berkelanjutan.
Pangan Lokal Jadi Pilihan Cerdas
Salah satu strategi yang ditekankan adalah mengoptimalkan potensi pangan lokal. Berbagai komoditas yang selama ini mudah dijumpai di sekitar masyarakat seperti singkong, ubi jalar, jagung, dan beragam sayuran lokal memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pangan bergizi keluarga.
Selain relatif mudah diperoleh dan harganya terjangkau, pemanfaatan pangan lokal juga dapat memberikan nilai tambah bagi hasil pertanian masyarakat Kabupaten Sukabumi.
Dengan demikian, memilih pangan lokal bukan hanya menjadi langkah berhemat, tetapi juga bentuk dukungan terhadap petani dan perekonomian daerah.
Segar dan Alami Lebih Diutamakan
DKP Kabupaten Sukabumi juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih makanan dengan mengutamakan pangan segar dan alami, baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan.
Masyarakat diingatkan agar tidak menjadikan makanan instan sebagai pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama karena sebagian produk makanan olahan dapat memiliki kandungan gula, garam, dan lemak yang tinggi.
Di sisi lain, aspek keamanan pangan juga menjadi perhatian. Salah satunya melalui dukungan terhadap program Nomor Registrasi Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT-PDUK) sebagai bagian dari upaya memastikan pangan segar yang dikemas dan diedarkan secara eceran memenuhi ketentuan keamanan pangan.
Kreatif di Dapur, Bijak Mengelola Pangan
Pesan “Bergizi Tidak Harus Mahal” juga mendorong masyarakat untuk lebih kreatif di dapur.
Bahan pangan yang tersedia dapat diolah menjadi beragam menu bergizi tanpa harus membeli bahan-bahan yang mahal. Bahkan, sisa pangan yang masih aman dikonsumsi dapat diolah kembali secara kreatif sehingga tidak berakhir menjadi sampah.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu keluarga mengurangi pemborosan pangan sekaligus menekan pengeluaran rumah tangga.
Perencanaan belanja juga menjadi kunci. Dengan menyusun kebutuhan pangan secara cermat, keluarga dapat membeli bahan sesuai kebutuhan, menghindari pembelian berlebihan, dan tetap menjaga keberagaman menu.
Menguatkan Rantai Pangan dari Petani hingga Meja Makan
Lebih jauh, kampanye ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara potensi pertanian lokal dengan kebutuhan pangan bergizi masyarakat.
Kelompok tani setempat memiliki peran penting dalam menyediakan pangan segar yang dapat mendukung kebutuhan nutrisi masyarakat di wilayahnya. Dengan rantai pasok yang semakin kuat, hasil pertanian lokal tidak hanya memiliki pasar yang jelas, tetapi juga dapat berkontribusi langsung terhadap pemenuhan pangan keluarga.
Semangat tersebut sejalan dengan upaya membangun ketahanan pangan yang dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.
Pada akhirnya, “Bergizi Tidak Harus Mahal” bukan sekadar slogan, melainkan ajakan agar masyarakat mengubah cara pandang terhadap pangan.
Pangan bergizi tidak selalu harus mahal. Dengan memanfaatkan potensi lokal, memilih bahan pangan yang segar dan aman, mengolah makanan secara kreatif, serta mengatur belanja dengan bijak, keluarga dapat menghadirkan menu berkualitas tanpa harus menguras isi dompet.
Dari meja makan keluarga, ketahanan pangan daerah pun dapat tumbuh dan menguat.(ASR)









