Infokowasi.com – Kerusakan alam tidak selalu dimulai dari bencana besar. Terkadang, kehancuran ekosistem justru berawal dari hal-hal yang dianggap sepele: pohon yang ditebang tanpa kendali, habitat satwa yang dirusak, perburuan liar, hingga hilangnya kepedulian manusia terhadap lingkungan. Jika dibiarkan, bukan hanya tumbuhan dan satwa yang terancam, tetapi juga masa depan kehidupan manusia.
Pesan penting inilah yang menjadi sorotan dalam peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2026, Kamis (5/11/2026). Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Bupati Drs. H. Asep Japar, M.M., bersama Wakil Bupati H. Andreas, S.E., mengajak masyarakat memperkuat kepedulian terhadap kelestarian kekayaan hayati.
Kabupaten Sukabumi memiliki kekayaan alam yang tidak ternilai. Hamparan hutan, kawasan pegunungan, perkebunan, hingga garis pantai yang membentang luas merupakan habitat bagi beragam flora dan fauna. Kekayaan tersebut menjadi modal ekologis yang harus dipertahankan, bukan dieksploitasi tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya.
Namun, kekayaan alam tidak akan bertahan hanya dengan kebanggaan. Dibutuhkan tindakan nyata, pengawasan, kepedulian, serta keberanian untuk menghentikan berbagai aktivitas yang mengancam kelangsungan hidup tumbuhan dan satwa.
Peringatan HCPSN tahun ini harus menjadi momentum untuk mengubah cara pandang masyarakat. Menjaga lingkungan bukan pekerjaan sampingan, apalagi sekadar slogan dalam kegiatan seremonial. Pelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui tindakan sehari-hari.
Ancaman terhadap keanekaragaman hayati dapat datang dari berbagai arah. Perusakan hutan, penyempitan habitat, pencemaran lingkungan, perburuan ilegal, serta perdagangan satwa dilindungi menjadi persoalan yang tidak boleh dianggap biasa.
Ketika satu jenis satwa kehilangan habitatnya, keseimbangan rantai kehidupan ikut terganggu. Ketika tumbuhan semakin sulit ditemukan, fungsi ekologis lingkungan pun terancam. Dampaknya mungkin tidak langsung terasa hari ini, tetapi generasi mendatang berpotensi menanggung akibatnya.
Karena itu, masyarakat diajak mengambil bagian dalam menjaga kelestarian alam melalui langkah konkret. Tidak melakukan perburuan liar, menolak perdagangan satwa dilindungi, menjaga kawasan hijau, menanam dan merawat pohon, serta tidak merusak habitat alami merupakan bentuk kepedulian yang dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
Pemerintah, komunitas pecinta lingkungan, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat desa juga perlu membangun gerakan bersama. Sebab, melindungi kekayaan hayati tidak mungkin berhasil apabila hanya dibebankan kepada satu pihak.
Jangan sampai anak cucu kelak hanya mengenal kekayaan flora dan fauna Sukabumi melalui gambar, cerita, atau dokumentasi masa lalu. Mereka berhak menikmati lingkungan yang masih hijau, kehidupan satwa yang tetap terjaga, serta alam yang memberikan manfaat bagi keberlangsungan hidup.
Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa manusia bukan pemilik tunggal alam, melainkan bagian dari ekosistem yang memiliki kewajiban untuk menjaganya.
Kini, tantangannya bukan sekadar bagaimana menikmati keindahan alam Sukabumi, melainkan bagaimana memastikan kekayaan tersebut tetap hidup dan lestari.
Sebab, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari megahnya pembangunan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga alam agar tetap menjadi sumber kehidupan. Inilah bagian penting dari cita-cita mewujudkan Kabupaten Sukabumi yang maju, unggul, berbudaya, dan berkah (Mubarakah).
(ASR)









