Arahan Presiden RI, 9 Juli 2020: “Gas dan Remnya ini Betul-Betul Dikendalikan Benar”

Amanat Presiden RI, 9 Juli 2020 Gas dan Remnya, Hati-Hati
Presiden didampingi Gubernur Kalteng memasuki Aula Jayang Tinang, Kompleks Gubernuran, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Kamis (9/7). (Foto: Humas/Teguh).

Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, infokowasi.com Arahan Presiden RI, pada tanggal 9 Juli 2020 – “Hati-hati, kita ini mengendalikan dua hal yang berbeda, sisi kesehatan yang sangat penting (dan) sisi ekonomi juga yang sangat penting”.

Inilah Transkripsinya:

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.
Yang saya hormati para Menteri yang hadir, Kepala Staf Kepresidenan, Ketua Gugus Tugas;
Yang saya hormati Gubernur Kalimantan Tengah beserta Pak Wagub, jajaran Forkopimda, seluruh Bupati dan Wali Kota yang hadir, Ketua Gugus Tugas, para dokter, perawat, dan seluruh jajaran rumah sakit, para tokoh masyarakat, seluruh jajaran TNI dan Polri, Pak Pangdam, Pak Kapolda.
Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerja keras dengan penuh dedikasi dalam mengendalikan COVID-19 yang ada di Kalimantan Tengah.
Sebaran COVID-19 di seluruh tanah air ini sangat tergantung sekali kepada bagaimana daerah mengendalikannya.
Dan juga perlu saya ingatkan, ini saya kira sudah lampu merah lagi, hari ini secara nasional kasus positif ini tinggi sekali hari ini, 2.657.
Oleh sebab itu, perlu saya ingatkan kepada Kalimantan Tengah, yang tadi baru saja lima menit yang lalu saya mendapatkan laporan bahwa di sini yang positif 1.093. Memang masih pada angka yang kecil, dalam perawatan 393 dan sembuh di angka 634, meninggal 66. Tetapi kalau angka yang masih kecil ini tidak dikendalikan dengan baik, manajemen krisis tidak dilakukan dengan tegas, rakyat tidak diajak semuanya untuk bekerja bersama-sama menyelesaikan ini, hati-hati, angka yang tadi saya sampaikan bisa bertambah banyak. Ini jangan dianggap enteng, bisa menyebar ke mana-mana.
Oleh sebab itu, kita harus memiliki perasaan yang sama bahwa kita ini menghadapi krisis yang tidak mudah.
Ada krisis kesehatan tetapi juga berimbas kepada yang namanya krisis ekonomi. 215 negara mengalami hal yang sama dan mengalami kesulitan yang sama. Ini saya berikan contoh saja, urusan ekonomi dulu, kita di kuartal pertama pertumbuhan kita, growth kita hanya muncul di angka 2,97, di kuartal kedua kita perkirakan berada di minus, sudah minus growth kita, di (-)3,8, kurang lebih. Ini baru prediksi karena hitung-hitungannya belum keluar.
Tetapi coba kita lihat, informasi terakhir yang saya terima dari OECD, prediksi untuk pertumbuhan ekonomi global yang sebelumnya -2,5 kemudian diubah lagi, karena ini dinamis sekali, menjadi -5, sekarang sudah ganti lagi -6 sampai -7,6. Hati-hati.
Di Eropa misalnya, Inggris diperkirakan tahun ini akan -15,4 persen, Jerman akan berada di angka 11,2 persen minus, Perancis diperkirakan akan -17,2 persen, Jepang -8,3 persen.
Hati-hati, kita ini mengendalikan dua hal yang berbeda, sisi kesehatan yang sangat penting (dan) sisi ekonomi juga yang sangat penting. Dua-duanya tidak bisa dilepas satu dengan yang lain. Prioritas kesehatan tetapi ekonomi juga harus jalan karena kalau ekonomi tidak jalan, kesejahteraan masyarakat menurun, imunitas juga akan ikut turun, penyakit gampang masuk.
Oleh sebab itu, betul-betul gas dan remnya ini betul-betul dikendalikan benar. Jangan sampai yang digas hanya ekonominya saja tetapi nanti COVID-19-nya meningkat, hati-hati. Dua-duanya ini harus dikendalikan dengan baik. Karena ekonomi sekarang ini yang rusak bukan hanya urusan sisi keuangan saja seperti ’98, demand-nya rusak terganggu, supplay-nya rusak terganggu, produksinya/production-nya juga rusak terganggu, hati-hati. Ini harus semuanya mengerti dan paham mengenai ini.
Oleh sebab itu, saya sampaikan di awal-awal krisis ini bahwa pemerintah daerah, baik provinsi, kabupaten, dan kota, harus siap urusan kesehatan, harus siap, kendalikan ini.
Yang kedua, urusan bansos (bantuan sosial) harus secepat-cepatnya tersampaikan kepada masyarakat, jangan sampai ada yang tercecer. Ini tugasnya bupati, wali kota, dan gubernur, semuanya ini harus dikontrol dan dicek.
Yang ketiga, urusan stimulus ekonomi, terutama urusan usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah. Cek betul, bantu mereka, baik dengan APBD kota, APBD kabupaten, APBD provinsi, dan kami di APBN juga akan membantu, baik lewat sistem perbankan maupun lewat sistem di kementerian.
Kalau ini ancaman COVID-19 ini sudah menurun, hati-hati kalau mau masuk ke new normal, ke Tatanan Baru, new normal. Harus melewati tahapan-tahapan, semuanya, seluruh kabupaten, kota, dan provinsi. Ada prakondisi, jadi conditioning dulu. Yang kedua timing-nya, waktunya kapan mulai masuk ke new normal, ini penting sekali. Tidak langsung ujug-ujug langsung diputusin masuk new normal. Hati-hati mengenai ini. Yang ketiga, prioritas sektor mana yang didahulukan. Tidak semua langsung dibuka, enggak bisa. Dipilih sektor-sektor yang memiliki risiko rendah, dibuka dulu, dibuka dulu; yang risiko sedang, yang kedua; yang ketiga, yang memiliki risiko tinggi, misalnya kayak sekolah, hati-hati kalau ingin membuka sekolah.
Oleh sebab itu, tadi saya sangat menghargai sekali bahwa di Kalimantan Tengah telah melakukan tes masif. Tetapi tes masif saja juga tidak cukup, pelacakan yang agresif harus dilakukan, ini dibantu Pangdam, Kapolda untuk urusan pelacakan, baik ODP, PDP. Kalau sudah ketemu, kalau yang sakit segera bawa ke rumah sakit, yang kira-kira sehat tetapi positif isolasi yang ketat.
Kita kalau di Jakarta itu ada kalau yang sakit berat langsung dibawa ke Rumah Sakit Sulianti (Saroso) tetapi kalau yang sedang-ringan dibawa ke Rumah Sakit Darurat di Wisma Atlet, dua minggu sembuh, langsung dipulangkan. Saya kira tiga hal ini tugasnya pemerintah: tes masif, pelacakan agresif, isolasi yang ketat.
Dan tugasnya masyarakat yang harus kita ingatkan terus: pakai masker kemanapun, jaga jarak dimanapun, yang ketiga menghindari kerumunan, diingatkan terus ini. Saya kira sosialisasi ini harus terus-menerus, enggak bisa berhenti. Hati-hati, angka 1.093 kasus positif ini harus stop, jangan sampai ada tambahan lagi.
Dan setiap gubernur, bupati, dan wali kota yang ingin memutuskan sesuatu kebijakan tolong pakai betul yang namanya data sains. Yang kedua, minta saran kepada pakar-para kesehatan, para saintis. Jangan sampai memutuskan sesuatu tanpa tanya kanan-kiri, tidak memakai data sains, ini berbahaya sekali. Sekali lagi, ini bukan sesuatu yang mudah, oleh sebab itu semuanya harus di-backup oleh data sains dan saran-saran/masukan para saintis.
Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Saya sangat menghargai kerja keras Kalimantan Tengah tetapi sekali lagi angka 1.093 kasus positif ini harus betul-betul dihentikan. Saya kira dengan SDM yang ada di sini saya meyakini itu akan bisa dilakukan.
Kalau Gugus Tugas merasa perlu bantuan dari pusat, Pak Gubernur juga memerlukan, silakan disampaikan, sesegera mungkin kami akan bantu. Baik misalnya, “Pak, kurang personil Pak,” saya kira kalau personel di TNI dan Polri juga masih bisa membantu. Kalau misalnya harus tenaga kesehatan misalnya, tapi kita harapkan tidak ada karena memang semuanya sudah ini kita sebar tapi kalau memang sangat diperlukan sekali sarana yang ada ya silakan, kami akan usahakan.
Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Terima kasih..
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sumber : Sekretariat Kabinet Republik Indonesia

RED

Print Friendly, PDF & Email
Baca Juga :  Kecamatan Sukabumi Serahkan Amanat Langsung ke Masyarakat
Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here