Belajar Di rumah, Sebuah Keputusan

Belajar Di rumah, Sebuah Keputusan

Oleh : Adang Junaedi

Aku tak bisa kemana-mana, rumah kini sudah menjadi teman akrab-ku. Keluar sesekali, adalah keterpaksaan. Dan tinggal dirumah adalah sebuah keputusan.

Menjauh dari benda yang tak terlihat, begitu sulit dilakukan. Memenjarakan diri, ini jauh lebih baik. Jaga jarak, jauhi kerumunan, tinggal dirumah, ini merupakan himbauan, dan berlaku bagi siapa saja. Termasuk aku, ini merupakan upaya memutus mata rantai penyebaran penularan covid-19.

Tak terkecuali bagi peserta didik dari semua tingkatan, mulai PAUD, TK, SD, SMP, SMA/SMK, kegiatan Proses Belajar Mengajar di pindahkan ke rumah. “Ya, aku salah satunya, yang tercatat sebagai siswa SMK, memasuki bulan Maret, sudah diberlakukan belajar mandiri di rumah.”

Belajar dirumah, merupakan keputusan terbaik untuk memutus mata rantai pandemic virus corona, terutama di lingkungan pelajar. Mengerjakan tugas dari guru lewat daring, dalam jaringan, atau internet bagi peserta didik adalah kewajiban dan harus dilaksanakan.

“Sebagaimana halnya, ketika kita belajar tatap muka diruang kelas dengan guru.” Tugas-tugas, mesti dikerjakan dengan penuh rasa tanggungjawab Ulas dia, sedikit berceramah.
“Tugas diberikan lewat internet, tapi tidak pernah menyurutkan-ku, untuk belajar lebih serius.” Awalnya, memang agak sulit beradaptasi belajar melalui internet, apalagi dihadapkan pada kendala signal dan jaringan yang lemah. Namun lama kelamaan semuanya bisa teratasi. Dia menuturkan dan sesekali mengerutkan keningnya. Seraya berseloroh, “Bukan pelajaran yang bikin aku pusing, tapi saat kuota habis.” Ketusnya, sambil cengengesan.

Baca Juga :  Sejarah Asal Muasal BOTRAM

Memasuki bulan April, belum ada tanda-tanda membaik, masih tetap kondisinya seperti biasa, pandemi virus corona atau covid-19, masih menjadi momok menakutkan. Pengaruhnya kesemua sektor, tidak hanya pada sektor kesehatan, tetapi juga kepada keberlangsungan proses KBM, kegiatan belajar mengajar.

Ku-akui, bagaimanapun belajar dirumah membutuhkan keseriusan dan kesabaran yang lebih, dibanding dengan belajar normal di sekolah. “Ya, gitu, maklum penyakit malas-ku terkadang sering hadir tiba-tiba,” teman-ku juga pasti sama merasakannya, iya, kan? Tanya dia.

Teman sekelas-ku, di jurusan RPL, rekayasa perangkat lunak, sempat memberi pesan lewat SMS, “Sorry, gua gak bisa kemana-mana uy…! benar-benar gua di pingit, seperti anak perawan,” tulis dia, yang biasanya setiap pulang sekolah suka mengantar-ku dengan motornya ke rumah-ku. Ya, biasa ikut nebeng gitu…!

Rasa kangen-ku, sedikit terobati, setelah beberapa Minggu tidak saling sapa. teman-ku, Dody menelepon, menanyakan kabar, dan kesehatan-ku, yang lainnya pernah menghubungi juga, sekalipun melalaui pesan WhatsApp. Semua sama, termasuk aku dilarang keluar rumah, apa pun alasannya, pokoknya tidak di ijinkan keluar, tetap harus tinggal di rumah. Kegiatan-ku setelah menyelesaikan tugas sekolah, paling tidur, “Ini yang aku lakukan setiap harinya.”

Baca Juga :  Resep Masakan dari Tempe yang Sederhana namun Enak

Ya, nongkrong sesekali, selepas mengerjakan tugas sekolah. Dengan tetangga sebelah. dilakukan untuk menghilangkan rasa penat di kepala. “Memang agak sedikit plong gitu…!” Sebenarnya jarak antara rumah teman sekolah tak terlalu jauh, karena lokasinya masih satu kota, bila menggunakan kendaraan umum hanya memakan waktu 15 menit sudah sampai.

Namun, ada kekuatiran diantara mereka, bila kita saling bertemu secara bergerombol atau secara fisik. Kemungkinan terpapar pandemi covid-19 relatif lebih besar. “Bukankah, kita lebih baik mencegah, daripada mengobati?” ini adalah pesan WhatsApp yang disampaikan teman-ku Dody, memang temanku yang satu ini, agak sedikit sotoy. Tapi, ku-akui, dia orangnya jujur dan kalau bicara apa adanya.

Basa-basi, bagi Dody, bukan sifat dia, langsung tonjok itulah karakternya. Memang dengan pembawaannya itu, ada juga yang kurang senang dengan gaya bicaranya.

Pagi itu, jam menunjukan Pukul 08.00 wib, ada pesan WhatsApp masuk, “Woy, kamu udah pada bayar uang SPP belum,? Bayar dong, tak ada alasan sekalipun belajar di rumah,” hehee…tulisan itu, ternyata dari Dody lagi, begitulah dia.

Baca Juga :  Rugi Jika Suami Tidak Memeluk Istri Setiap Hari Ketika Tidur, Ini 7 Manfaatnya

Sebenarnya, aku sudah baca pesan itu, awalnya dari WA Grup orangtua siswa. Ayah-ku belum berkomentar masalah tagihan SPP dari sekolah. Aku, mencoba berusaha untuk paham dengan masalah yang dihadapi orangtua-ku, mungkin juga, tidak jauh berbeda dengan kondisi orangtua teman-teman-ku yang lain. Selama ini, ayah-ku, berdiam diri di rumah, tentu, tak ada penghasilan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, menggunakan sisa uang yang ada. tentu saja dengan jumlah persediaan yang sangat terbatas.

Aku, Dody dan teman-teman lainnya, setiap ada waktu senggang, selalu berkomunikasi. saling menyapa, dan saling membagi pengalaman, selama kegiatan belajar di rumah. sekali pun hanya lewat SMS atau WhatsApp. Mereka saling memberikan masukan dan nasehat, “jangan panik menghadapi virus corona covid-19, kita serahkan saja sepenuhnya ke sang maha pencipta, yaitu Allah SWT…!” Aamiin-kan… teman-teman, biar kita mendapat perlindungan dari Allah. Kata Dody mengakhiri tulisan WhatsApp-nya. Oke, sampai jumpa lagi…

Print Friendly, PDF & Email

Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here