Oleh: Belo Wid
Program makan bergizi di sekolah adalah terobosan yang patut diapresiasi. Anak-anak yang dulu sering datang dengan perut kosong kini mendapat asupan yang lebih layak — sebuah investasi nyata untuk masa depan bangsa. Kita bergembira. Namun di balik kebahagiaan itu ada rasa gelisah yang perlu didengar: bukan tentang apa yang dimakan, melainkan di mana makanan itu diletakkan setiap hari—food tray.
Kalau melihat wujudnya, tray stainless tampak meyakinkan: mengkilap, kokoh, mudah dibersihkan. Tapi jangan lupa: tidak semua stainless sama. Ada jenis yang memang diformulasi untuk kontak pangan (mis. tipe yang secara industri dikenal aman), dan ada jenis yang lebih murah dengan komposisi berbeda. Lebih jauh lagi, ada praktik industri yang memakai logam bekas (scrap) sebagai bahan baku — jika kontrolnya longgar, unsur yang tidak diinginkan termasuk timbal (Pb) bisa terkandung dalam produk akhir.
Mengapa ini penting? Karena beberapa unsur logam yang potensial “bocor” dari tray ke makanan mempunyai konsekuensi serius bagi anak:
– Mangan (Mn): dibutuhkan tubuh dalam jumlah sedikit, tetapi paparan berlebih terutama pada anak dapat mempengaruhi perkembangan saraf dan perilaku.
– Nikel (Ni): komponen pada beberapa jenis stainless; dapat memicu alergi kronis dan, bila terakumulasi, potensi gangguan organ.
– Timbal (Pb): tidak ada ambang aman bagi anak—paparan sekecil apa pun berisiko menurunkan kecerdasan, menyebabkan gangguan perkembangan dan problem kesehatan permanen.
Masalahnya bukan sekadar teori: di lapangan ada banyak laporan dan indikasi bahwa klaim manufacturer seperti tulisan “SUS304” di kemasan tidak selalu menjamin komposisi kimia yang sesuai. Kasus-kasus publik dan pemeriksaan sampel yang terbatas menunjukkan ada produk yang diberi label sekelas “304” padahal kualitasnya lebih rendah—dan ada pula isu yang lebih sensitif yang memicu pemeriksaan pendahuluan. Belum lagi fakta bahwa kapasitas produksi lokal untuk memenuhi kebutuhan program besar sering disebut jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhan total; celah itulah yang membuka pintu bagi impor massal produk murah yang mungkin belum teruji secara memadai.
Yang menambah kegelisahan adalah kesenjangan pengawasan. Negeri ini relatif agresif mengawasi isi makanan—kandungan gizi, sanitasi, bahkan isu-isu yang langsung memicu reaksi publik. Tetapi pengawasan terhadap material peralatan makan belum mendapat perhatian setara. Standar teknis nasional untuk food tray kini ada, dan lembaga penilaian kesesuaian mulai ditunjuk — itu kabar baik. Namun sampai ada kewajiban tegas (sertifikasi wajib sebelum edar, uji migrasi logam), dan sampai ada pengujian acak yang transparan, kekhawatiran publik tetap masuk akal.
Saya menulis ini bukan untuk menakut-nakuti atau menolak program makan bergizi — justru karena mendukunglah saya mendesak agar program itu aman sepenuhnya. Perlindungan anak itu holistik: menu bergizi harus datang bersama jaminan bahwa wadah makan tidak menjadi jalan masuk racun mikro yang terakumulasi.
Beberapa langkah konkret yang mendesak:
1. Tetapkan SNI food tray sebagai kewajiban untuk semua pengadaan sekolah — tidak lagi sukarela.
2. Wajibkan sertifikat hasil uji laboratorium independen untuk setiap batch sebelum dipakai massal di institusi pendidikan.
3. Lakukan uji acak lapangan secara berkala dan publikasikan hasilnya; transparansi membangun kepercayaan.
4. Koordinasi lintas-kementerian: Kemenkes/Badan Gizi Nasional, BSN, BPOM, Kemendag, dan Kemdikbud/Kementerian Agama harus terlibat sehingga tidak ada “bola panas” antar lembaga.
5. Sanksi tegas bagi pelaku usaha yang memalsukan label atau memasok produk tidak memenuhi standar.
Kita berhak berharap kekhawatiran ini salah besar. Saya ingin pemerintah memegang data yang meyakinkan: tiap tray di sekolah telah diuji, aman, dan terbebas dari logam berbahaya. Jika itu terbukti, berita terbaik akan tersebar luas: negara hadir, orang tua tenang, dan program makan bergizi berjalan tanpa risiko tersembunyi. Jika belum, lebih baik segera bertindak daripada menunggu dampak yang tak bisa diperbaiki.
Generasi sehat lahir dari perhatian penuh — bukan dari pengawasan setengah hati. Anak-anak kita berhak mendapat jaminan itu, sampai ke wadah makan yang tampak sepele namun vital.
Fact Sheet: Food Tray Sekolah
Temuan Kunci:
– Ada standar nasional untuk food tray (SNI 9369:2025).
– Lembaga penilaian kesesuaian sudah mulai ditunjuk.
– Produksi lokal relatif terbatas, impor massal menutup kebutuhan.
– Klaim material “SUS304” rawan disalahgunakan.
– Tidak ada data publik nasional soal uji migrasi logam berat (Mn, Ni, Pb).
Rekomendasi:
1. Jadikan SNI wajib untuk tray sekolah.
2. Wajibkan uji lab independen sebelum pengadaan.
3. Lakukan uji acak nasional dan publikasikan hasilnya.
4. Libatkan lintas kementerian agar pengawasan tidak tercecer.
5. Sanksi tegas bagi pemalsuan label.
(Redaksi)







