Infokowasi.com — Keluhan warga terkait terganggunya aliran air bersih di Kampung Gudang, RT 04/RW 06, Desa Ciheulang Tonggoh, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mendapat respons cepat dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi.
Tak ingin persoalan tersebut berlarut, Disperkim langsung melakukan pengecekan ke lokasi untuk memastikan penyebab terhentinya aliran air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.
Sarana penyediaan air bersih tersebut merupakan program yang dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2025. Kehadirannya sebelumnya telah memberikan manfaat bagi warga setempat. Namun, dalam hampir dua pekan terakhir, aliran air menuju rumah-rumah warga mengalami gangguan.
Kepala Bidang Sanitasi Disperkim Kabupaten Sukabumi, Agus Hilmansyah, turun langsung ke lokasi pada Kamis pekan lalu. Selain memeriksa kondisi sarana dan prasarana, ia juga berdialog dengan Ketua RT serta sejumlah warga untuk menggali informasi mengenai kondisi air bersih di wilayah tersebut.
Hasil pengecekan di lapangan menunjukkan bahwa persoalan bukan berasal dari kerusakan sarana. Mesin pompa, kabel, hingga jaringan instalasi dipastikan masih dalam kondisi berfungsi.
Menurut Agus, gangguan aliran air lebih disebabkan oleh faktor alam, yakni menurunnya debit sumber air akibat musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.
“Setelah kami cek, mulai dari mesin pompa, kabel, hingga instalasi lainnya, semuanya masih berfungsi. Kondisi air yang tidak mengalir lebih disebabkan faktor alam, karena saat ini musim kemarau cukup panjang sehingga pasokan air dari sumber atau sumur mengalami penurunan,” ujar Agus.
Kondisi tersebut, kata dia, tidak hanya terjadi di Desa Ciheulang Tonggoh. Sejumlah wilayah lain yang mendapatkan program penyediaan sarana air bersih juga menghadapi persoalan serupa.
Penurunan debit sumber air selama musim kemarau menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlangsungan layanan air bersih masyarakat.
“Ini bukan hanya terjadi di Desa Ciheulang Tonggoh. Di beberapa desa lain yang mendapatkan program sarana air bersih juga mengalami hal serupa. Setelah dilakukan pengecekan, sarana seperti mesin pompa, kabel dan instalasi dipastikan masih berfungsi,” jelasnya.
Pengelolaan Sarana Jadi Perhatian
Di tengah persoalan debit air yang menurun, Disperkim juga menyoroti aspek pengelolaan sarana air bersih di tingkat masyarakat.
Dalam dialog di lokasi, Ketua RT setempat menyampaikan bahwa hingga saat ini Pemerintah Desa belum membentuk Surat Keputusan (SK) kepengurusan yang secara khusus bertugas mengelola sarana air bersih tersebut.
Padahal, keberadaan pengelola menjadi bagian penting untuk memastikan sarana tetap terawat dan gangguan yang muncul dapat segera ditangani.
Agus menjelaskan, masa pemeliharaan sarana oleh penyedia jasa kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman telah berakhir. Dengan demikian, pengelolaan dan perawatan selanjutnya menjadi tanggung jawab penerima manfaat melalui kepengurusan yang dibentuk di lingkungan masyarakat.
“Untuk sarana air bersih di Desa Ciheulang Tonggoh, masa pemeliharaan dari penyedia jasa kepada Dinas Perkim sudah berakhir. Selanjutnya, pengelolaan dan perawatan menjadi tanggung jawab penerima manfaat atau kepengurusan yang dibentuk oleh masyarakat setempat,” ungkapnya.
Disperkim berharap pemerintah desa bersama masyarakat dapat segera membentuk kepengurusan pengelola sarana air bersih. Langkah tersebut dinilai penting agar keberadaan fasilitas yang telah dibangun melalui program pemerintah dapat terus memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Dengan pengelolaan yang jelas, proses pemeliharaan maupun penanganan ketika terjadi gangguan juga diharapkan dapat dilakukan lebih cepat, terarah, dan terkoordinasi.
Sementara itu, menghadapi kondisi kemarau yang masih berdampak terhadap debit sumber air, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan seperlunya.
Disperkim memastikan pengecekan telah dilakukan untuk memastikan tidak terdapat kerusakan pada sarana utama. Persoalan yang kini dihadapi lebih berkaitan dengan ketersediaan sumber air yang menurun akibat faktor musim.
Bagi warga Kampung Gudang, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa keberadaan sarana air bersih bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan pengelolaan bersama dan kepedulian masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.









