Jangan Pertajam Perbedaan

Jangan Pertajam Perbedaan
ADANG JUNAEDI(Wakil Pimpinan Redaksi infokowasi.com)

Oleh: Adang Junaedi

Aku bukan seorang penulis, apalagi sebagai penyair atau seorang sastrawan. Terlalu berat julukan itu untuk ku sandang. Dan memang sangat berlebihan orang menyematkan itu.
Aku hanya menulis sesekali saja di beberapa media cetak, baik lokal maupun Nasional. Namun Ada sejumlah jurnalis menganggap dan menempatkan-ku sebagai seorang ahli atau profesional. Padahal aku tak sebesar yang mereka sangkakan.

Justeru, ada seseorang dengan nama besar di dunia jurnalistik, tinggal di Sukabumi, dia adalah seorang wartawan senior dan profesional di bidangnya. Namun, dia menganggap-ku sebagai seorang sastrawan, tentu saja aku begitu gagap ketika mendengar julukan itu. Apalagi keluar dari mulut seseorang yang memiliki kemampuan yang mumpuni, ilmu dan wawasannya sudak tidak diragukan lagi.

Peristiwa ini, aku jadikan sebagai cermin diri. Dimana selama mengenal dunia tulis menulis atau dengan istilah kerennya jurnalis, aku dipertemukan dengan seseorang yang memiliki wawasan luas. Namun terlihat jiwa besarnya, dia begitu mudah dan ringan mengangkat nama besar seseorang. Aku menyadari dari aspek keilmuan, baik pengetahuan atau pengalaman. Dia sudah lebih jauh memilikinya. Tetapi sedikit pun, dia tidak kuatir turun derajatnya, ketika memuji kelebihan orang lain.

Baca Juga :  Hari Pertama PSBB Bodebek, GubernurJabar : "Ada Sanksi, Tes Masif dan Bansos"

Aku, sebenarnya sudah lama mengenal nama besar orang tersebut, karena dia sempat memimpin sejumlah media cetak, terutama media harian. Baru kemarin aku berjabat tangan setelah puluhan tahun mengenalnya, tuhan mentakdirkan, aku harus ketemu dengan dia. Kebetulan dia sebagai nara sumber, dan aku sendiri tercatat sebagai peserta dalam salah satu kegiatan Bimtek wartawan di Sukabumi.

Dia, membawakan materi tentang metode penulisan deskripsi berdasarkan struktur 5W+1H. Dan Kode Etik Jurnalistik. Begitu kuat penekanannya, ketika dia memaparkan teknik penulisan berita, sampai kepada sikap dan tatanan moral seorang wartawan dikupas habis.

Saat itu, ada waktu istirahat untuk makan dan Shalat, ketika sedang antri mengambil makanan, yang disediakan panitia. Aku ketemu dengan dia, seperti biasa dengan kerendahan hatinya, dia menyapa. “Bagaimana sehat kang?” tanya Dia.

Baca Juga :  211 Petugas SE 2020 Rapid Test

Dan pembicaraan berlanjut, “Kita baru ketemu,” ungkap Dia. Alhamdulillah kita bisa saling mengisi. Dia memanggilku dengan sebutan akang, sebagai panggilan keakraban. “Semoga, akang bisa mewarnai dengan karya-karya sastranya.” Ucap dia meyakinkan.

Sekali lagi aku cukup tersanjung, dengan sikap dan kelembutan hatinya. sebenarnya ini terasa bagi siapa pun, yang sempat bertegur sapa dengannya. Hmm… aku bukan ingin berperan menjadi seorang penjilat. Namun, aku terbiasa menghargai orang yang selalu mengedepankan sikap santun, serta menghargai orang lain. Justeru aku kurang suka dengan orang yang selalu membesar-besarkan perbedaan.

Dengan kebesaran hatinya, dia selalu mengucapkan kelebihan orang lain, ketimbang sebaliknya mengumbar kekurangan atau kelemahan orang. Sangat hati-hati bila dia berucap, sepertinya dia tak ingin ada yang tersinggung dari setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.

Baca Juga :  PENUTUPAN SEMENTARA TAMAN REKREASI CIMALATI DAN SITU GUNUNG

Begitu sempurnakah? tentu saja tidak, dia juga sebagai manusia biasa, yang tak luput dari salah. Tetapi menyadari akan adanya kekurangan, itu lebih baik, ketimbang bertahan dalam ke-egoan.

Ketika itu, aku sempat bertanya seputaran pedoman penulisan berita dengan metode deskripsi obyektif. Dengan tenangnya, dia memberikan jawaban yang runtut, dilengkapi dengan contoh tulisan yang tersusun rapih sesuai struktur penulisan suatu berita. “Hebat, dia memang menguasai materi, dan kompeten dalam dunia jurnalistik,” gumam-ku dalam hati.

Tentu, aku dan semua rekan jurnalis, mengakui dan sepakat atas kelebihannya, serta memberi penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasinya di dunia jurnalistik selama ini. Namun, dia tetap sebagai seorang yang rendah hati, hidupnya bersahaja, jauh dari sifat sombong. Aku dan Dia saling menghargai, dan menghormati kelebihan masing-masing, jadilah dia sebagai seorang inspirator untuk para wartawan!…

(RED)

Print Friendly, PDF & Email
Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

2 KOMENTAR

  1. Cerpen diatas patut aku jadikan tauladan dan memang aku haus tentang ilmu penulisan yg cerita terlebih sastra modern ..
    Terimakasih pada dapur redaksi..
    Terimakasih buat kang Adang dialog…gaya tulisan bahasa nya akan saya adofsi sebagai ilmu buat kami semoga bermanfaat buat kita semua..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here