Kiat Pengasuhan di Tengah Wabah COVID-19

Kiat Pengasuhan di Tengah Wabah COVID-19

Infokowasi.com – Pandemi virus corona (COVID-19) berdampak pada kehidupan semua keluarga di seluruh dunia. Ada begitu banyak kegiatan yang terhenti. Pembelajaran dan pekerjaan diminta berlangsung dari rumah, sementara imbauan untuk menjaga jarak fisik yang aman dari orang lain terus diserukan. Situasi ini tidak mudah bagi siapa pun, khususnya orang tua. Bekerja sama dengan inisiatif Parenting for Lifelong Health, UNICEF mengumpulkan beberapa kiat praktis untuk membantu para orang tua dan pengasuh menghadapi masa-masa ini.

Lihat kiat-kiat pengasuhan

Kiat Pengasuhan di Tengah Wabah COVID-19

1. Waktu berkualitas dengan masing-masing anak

Tidak dapat bekerja? Sekolah ditutup? Cemas perihal keuangan? Dalam situasi sekarang, wajar apabila kita merasa resah atau tertekan.

Di sisi lain, ditutupnya sekolah merupakan kesempatan untuk mendekatkan hubungan dengan anak-anak kita. Caranya bisa dengan membuat kegiatan istimewa bersama masing-masing anak. Cara gratis dan seru ini membuat anak merasa dicintai, aman, sekaligus mengetahui bahwa dirinya penting.

Tetapkan jadwal untuk berkegiatan dengan setiap anak

Tetapkan durasi waktu kegiatan—20 menit atau lebih lama, terserah pada kita. Lakukan pada jam yang sama setiap harinya agar ada sesuatu yang bisa dinantikan anak.

Minta anak memilih jenis kegiatan

Meminta anak memilih berarti membangun rasa percaya dirinya. Jika anak memilih kegiatan yang harus dilakukan di tempat-tempat ramai, inilah kesempatan kita berdiskusi dengannya mengenai situasi yang sedang berlangsung.

Ide kegiatan dengan bayi/balita

  • Meniru ekspresi wajah atau suara
  • Menyanyikan lagu, membuat irama dengan mengetukkan benda-benda sekitar seperti panci dan sendok
  • Menumpuk blok atau cangkir mainan
  • Mendongeng, membacakan buku, atau memperlihatkan gambar

Ide kegiatan dengan anak usia TK/sekolah dasar

  • Membacakan buku atau melihat-lihat gambar
  • Berjalan kaki – di alam terbuka atau di sekitar rumah
  • Menari atau bernyanyi!
  • Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah—membersihkan rumah atau memasak bisa dijadikan permainan seru!
  • Membantu anak mengerjakan tugas sekolah

Ide kegiatan dengan remaja

  • Ajak anak mengobrol tentang topik yang mereka minati: olah raga, musik, artis, teman-teman
  • Berjalan kaki – di alam terbuka atau di sekitar rumah
  • Berolah raga bersama diiringi musik kesukaan anak

Selama bersama setiap anak, matikanlah TV dan jauhkan ponsel. Simak dan tataplah mereka. Berikan anak perhatian yang penuh. Selamat mencoba.

 

2. Tetap positif

 

Menjaga suasana hati yang baik tidak mudah saat harus menghadapi anak dengan berbagai macam tingkah lakunya. Sering kali, akhirnya orang tua menghardik, “Sudah, berhenti!” Padahal, kita tahu bahwa anak akan lebih menurut jika diberikan perintah positif dan pujian apabila ia berhasil melakukan sesuatu.

Fokus pada perilaku yang kita inginkan

Gunakan kalimat positif saat meminta anak melakukan sesuatu. Contoh: “Tolong, simpan bajumu, ya”, bukan “Jangan bikin berantakan!”

Nada suara itu penting

Membentak anak hanya akan menambah rasa stres dan marah, baik pada diri orang tua maupun anak sendiri. Cobalah menarik perhatian anak dengan memanggil nama mereka dan berbicara dengan suara yang tenang.

Baca Juga :  | Infografis | Tuntunan Shalat Idul Fitri di Rumah

Puji anak atas perilaku baiknya

Pujilah anak, termasuk si remaja, jika mereka menunjukkan perilaku yang baik. Anak mungkin tidak menunjukkan ia senang, tetapi lain kali ia akan mengulangi perilaku baiknya itu. Pujian juga menunjukkan bahwa kita memperhatikan dan peduli kepada tingkah laku mereka.

Tetap realistis

Apakah permintaan kita realistis untuk dilaksanakan anak? Anak-anak usia muda biasanya kesulitan untuk tetap tenang di dalam rumah sepanjang hari penuh. Namun, mereka bisa tenang selama 15 menit sementara orang tua menerima telepon.

Bantu si remaja tetap dekat dengan teman-temannya

Anak remaja memiliki kebutuhan lebih besar untuk berkomunikasi dengan teman. Bantu anak tetap terhubung melalui media sosial dan cara lain tanpa melanggar jarak aman. Orang tua pun bisa ikut!

 

3. Buat jadwal

COVID-19 menghentikan rutinitas kerja, rumah, dan sekolah. Inilah situasi sulit bagi anak, baik yang berusia muda maupun remaja, dan orang dewasa. Untuk mengatasinya, buatlah rutinitas baru.

 

Rutinitas fleksibel, namun konsisten 

  • Buat jadwal untuk orang tua dan anak. Cantumkan waktu-waktu untuk kegiatan terarah dan kegiatan santai. Jadwal membantu anak merasa lebih aman dan tenang.
  • Anak bisa membantu merancang jadwal—seperti jadwal pelajaran. Jika dilibatkan, anak lebih mungkin akan mengikuti jadwal dengan baik.
  • Masukkan jadwal berolah raga setiap harinya. Olah raga membantu meredakan stres dan menyalurkan energi anak.

Ajarkan anak tentang jarak aman dan cara mempertahankannya

  • Bawa anak ke luar rumah—jika masih diperbolehkan
  • Buat surat atau gambar untuk dilihat orang-orang lain. Tempelkan di jendela atau dinding rumah agar bisa dilihat!
  • Yakinkan anak; sampaikan cara-cara yang akan dilakukan agar mereka tetap aman.
  • Dengarkan saran mereka dan pertimbangkan dengan serius

Cuci tangan dan bersih-bersih bisa jadi seru

  • Buat lagu cuci tangan berdurasi dua puluh detik. Jangan lupa tambahkan gaya, ya!
  • Berikan anak poin dan pujian jika mencuci tangan dengan teratur
  • Buat permainan bertema sentuhan wajah. Pemenangnya adalah orang yang paling jarang menyentuh wajah (silakan jadi juri dengan menghitung skor setiap orang)
Ingat, orang tua adalah panutan bagi anak

Mulailah dari diri sendiri dalam menerapkan jaga jarak dan kebersihan serta memperlakukan orang lain dengan baik—terutama mereka yang sakit atau rentan. Anak akan mencontoh perilaku yang ditampilkan orang tua.

Di akhir hari, ajak anak berefleksi tentang hari mereka. Sampaikan satu hal positif atau menyenangkan yang dilakukan anak. Jangan lupa memuji diri sendiri juga atas perilaku baik anak. Andalah orang tua dan pengasuh super!

 

4. Mengatasi perilaku kurang baik

Semua anak pernah berperilaku kurang baik. Hal ini wajar saat anak lelah, lapar, takut, atau sedang belajar mandiri. Lagipula, mereka pun jenuh karena harus terus-menerus berada di dalam rumah.

Baca Juga :  Kelor, Terlupakan tapi Menjanjikan

Alihkan

  • Atasi segera perilaku kurang baik dan alihkan perhatian anak ke perilaku yang baik.
  • Hentikan sebelum dimulai! Begitu anak mulai gelisah, alihkan perhatiannya dengan menawarkan kegiatan menarik atau menyenangkan, seperti mengajak mereka berjalan-jalan di sekitar rumah.

Ambil napas

Frustrasi? Diri kita pun butuh jeda. Ambil sepuluh detik untuk bernapas tenang. Hirup dan hembuskan napas dengan perlahan sebanyak lima kali. Setelah itu, hadapi situasi dengan lebih tenang. Banyak orang tua berkata cara ini sangat membantu.

Ajarkan anak konsekuensi

Konsekuensi membantu setiap anak bertanggung jawab atas tindakannya. Konsekuensi juga menanamkan disiplin. Hal ini lebih efektif dibandingkan memukul atau membentak.

  • Minta anak memilih mengikuti arahan orang tua sebelum memberikan konsekuensi.
  • Cobalah tetap tenang saat memberikan konsekuensi
  • Pastikan Anda juga konsisten dalam menerapkan konsekuensi. Konsekuensi pun harus realistis. Menyita ponsel anak remaja selama sepekan jauh lebih sulit dilakukan dibandingkan menyimpan ponselnya selama satu jam.
  • Setelah konsekuensi selesai, berikan anak kesempatan melakukan hal baik, dan pujilah mereka.

Waktu berkualitas, memuji anak, dan rutinitas yang konsisten bisa membantu mengatasi perilaku kurang baik.

Berikan juga anak dan remaja tugas sederhana yang mengandung tanggung jawab. Pastikan tugas itu memang sanggup mereka lakukan. Jangan lupa untuk memuji mereka setelah selesai!

 

5. Tetap tenang dan kelola stres

Masa-masa ini adalah masa saat stres mudah menyerang. Rawat diri agar kita bisa merawat anak-anak.

Anda tidak sendiri

Ada jutaan orang lain dengan rasa takut yang sama. Carilah seseorang yang dapat menjadi teman bicara. Dengarkan juga mereka. Hindari media sosial yang bisa membuat panik.

Beristirahatlah

Kita semua butuh istirahat. Saat anak-anak tidur, lakukan kegiatan yang kita sukai atau yang membuat tenang. Buat daftar kegiatan sehat yang ANDA senangi. Anda pun layak terhibur!

Dengarkan anak-anak

Terbukalah dan dengarkan anak-anak. Anak mencari orang tua dan pengasuh untuk mendapatkan dukungan dan ketenangan. Simak cerita mereka. Terima perasaan mereka dan berikan mereka rasa nyaman.

Jeda sejenak

Berikut adalah ide kegiatan satu menit yang bisa dilakukan setiap kali timbul stress dan rasa cemas.

Langkah 1: Persiapan

  • Cari posisi duduk yang nyaman. Telapak kaki menempel pada lantai dan letakkan kedua tangan di atas pangkuan.
  • Jika sudah merasa nyaman, pejamkan mata.

Langkah 2: Pikiran, perasaan, reaksi

  • Berdialoglah dengan diri sendiri. Tanya, “Apa yang sedang saya pikirkan?”
  • Perhatikan pikiran yang muncul—negatif atau positif
  • Perhatikan emosi yang timbul—bahagia atau sebaliknya
  • Perhatikan reaksi tubuh—adakah yang bagian tubuh yang menjadi tegang atau terasa nyeri?

Langkah 3: Fokus pada pernapasan

  • Dengarkan napas masuk dan keluar
  • Silakan letakkan satu tangan di atas perut. Rasakan perut naik dan turun seirama napas
  • Jika mau, berdialoglah lagi dengan diri sendiri. Katakan, “Jangan khawatir. Apa pun yang sedang terjadi, saya baik-baik saja.”
  • Teruskan mendengarkan napas sebentar.
Baca Juga :  SMK Langlang Buana Mulai Membuka Pendaftaran Online

Langkah 4: Kembali

  • Perhatikan kondisi tubuh
  • Dengarkan suara-suara di ruangan

Langkah 5: Berefleksi

  • Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ada perasaan yang berbeda?”
  • Setelah siap, buka kembali mata. Terbukalah dan dengarkan anak-anak. Anak mencari orang tua dan pengasuh untuk mendapatkan dukungan dan ketenangan. Simak cerita mereka. Terima perasaan mereka dan berikan mereka rasa nyaman

Mengambil jeda seperti di atas juga dapat membantu jika anak-anak terasa mengganggu atau kita melakukan kesalahan. Dengan memusatkan perhatian pada diri sendiri selama satu menit, kita memberikan diri kesempatan menjadi lebih tenang Menghirup napas dalam-dalam beberapa kali dan merasakan lantai di bawah kaki bisa membuat perbedaan besar. Anak pun dapat diajak melakukan kegiatan ini!

 

6. Mendiskusikan COVID-19

 

Bersedialah berdiskusi. Anak-anak pasti mendengar berita. Lindungi anak bukan dengan menolak menjelaskan atau menutup-nutupi keadaan, melainkan dengan sikap jujur dan terbuka. Sesuaikan penyampaian dengan tingkat pemahaman anak. Andalah yang paling tahu.

Bersikap terbuka, dengarkan anak

Izinkan anak bebas berbicara. Ajukan beberapa pertanyaan yang meminta mereka menjelaskan suasana dari sudut pandangnya untuk mengetahui tingkat pengetahuan mereka.

Bersikaplah jujur

Jawab setiap pertanyaan dengan jujur. Pertimbangkan usia anak dan seberapa baik mereka dapat memahami informasi.

Bersikaplah mendukung

Anak mungkin merasa takut atau bingung. Berikan mereka kesempatan menyampaikan perasaannya. Yakinkan anak bahwa kita ada untuk mereka.

Tidak tahu jawabannya? Tidak apa-apa

Tidak ada salahnya mengakui jika ada pertanyaan yang tidak dapat kita jawab. Katakanlah, “Ayah/ibu tidak tahu, kami juga masih belajar,” atau “Ayah/ibu tidak tahu, tetapi sepertinya…” Gunakan kesempatan ini untuk belajar sesuatu yang baru bersama-sama anak!

Pahlawan, bukan perundung

Jelaskan bahwa COVID-19 tidak ada kaitannya dengan penampilan, negara asal, atau bahasa seseorang. Sampaikan kepada anak bahwa kita bisa mengasihi mereka yang tengah sakit atau petugas medis yang terus bekerja. Coba cari kisah-kisah tentang orang-orang yang bekerja keras untuk menghentikan wabah dan merawat pasien.

Menyortir kisah yang beredar

Ada begitu banyak informasi yang beredar, tetapi sebagian di antaranya mungkin tidak benar. Selalu rujuk informasi ke sumber-sumber terpercaya seperti UNICEF dan World Health Organization.

Ingatkan anak bahwa mereka selalu dicintai

Jangan lupa menanyakan keadaan anak. Ingatkan bahwa kita peduli dan kita ada jika mereka butuh teman bicara. Setelah itu, jangan lupa bersenang-senang!

Kiat-kiat pengasuhan ini dibuat berdasarkan kerja sama UNICEF dengan inisiatif Parenting for Lifelong Health.

Sumber: unicef

(RED)

Video Tips dari Psikolog Ike R. sugianto untuk orang tua

Print Friendly, PDF & Email
Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here