Latihan Kondisi Fisik

Latihan Kondisi Fisik

Infokowasi.com – Kondisi fisik merupakan unsur yang sangat penting hampir di seluruh cabang olahraga. Oleh karena itu latihan kondisi fisik perlu mendapat perhatian yang serius direncanakan dengan matang dan sistematis sehingga tingkat kesegaran jasmani dan kemampuan fungsional alat-alat tubuh lebih baik.

Cabang olahraga badminton menuntut para pemainnya untuk berlari, melompat, mengubah arah secara cepat, memukul dengan tepat, serta menuntut daya tahan tubuh, disamping itu juga dituntut kecerdikan, ketelitian, kecepatan bertindak, kerjasama dengan orang lain, disiplin untuk mengikuti peraturan yang telah ditentukan.

Apabila kondisi fisik baik, maka :
1. Akan ada peningkatan dalam kemampuan sistem sirkulasi dan kerja jantung.
2. Terjadi peningkatan dalam kekuatan, kelentukan, stamina, kecepatan, dan komponen kondisi fisik lainnya.
3. Akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi gerak kearah yang lebih baik.
4. Waktu pemulihan akan lebih cepat.
5. Respon bergerak lebih cepat apabila dibutuhkan.

Dengan demikian faktor-faktor tersebut harus benar-benar dilatih secara benar dan tepat, sistematis dan berkesinambungan. Harsono (1988) menjelaskan tujuan latihan serta sasaran latihan adalah, “…….untuk membantu atlet dalam meningkatkan keterampilan dan prestasinya semaksimal mungkin.” Untuk mencapai hal tersebut, ada empat aspek yang perlu diperhatikan dan dilatih secara seksama oleh atlet, yaitu:
(a) latihan fisik, (b) latihan teknik, (c) latihan taktik, dan (d) latihan mental.

Program latihan kondisi fisik haruslah direncanakan dengan baik dan sistematis dan ditujukan untuk meningkatkan kesegaran jasmani dan kemampuan fungsional dari sistem tubuh, sehingga dengan demikian kemungkinan atlet untuk mencapai prestasi yang lebih baik.

Komponen kondisi fisik terdiri dari komponen-komponen seperti kekuatan otot, daya tahan otot, daya tahan umum, fleksibilitas, kecepatan, koordinasi, agilitas, dan keseimbangan. Mengembangkan atau meningkatkan kondisi fisik, berarti

mengembangkan atau meningkatkan kemampuan fisik (physical abilities) atlet. Kemampuan fisik mencakup dua komponen, yaitu komponen kesegaran jasmani (physical fitness) dan komponen kesegaran gerak (motor fitness).

Kesegaran jasmani terdiri dari kekuatan otot, daya tahan otot, daya tahan pernafasan-peredaran darah, dan fleksibilitas. Sedangkan komponen kesegaran gerak terdiri dari kecepatan, koordinasi, agilitas, daya ledak otot, dan keseimbangan.

Latihan kondisi fisik berarti atlet diberi latihan komponen-komponen kesegaran jasmaninya dan komponen-komponen kesegaran geraknya. Mengenai kesegaran jasmani dan kesegaran gerak dijelaskan dan digambarkan oleh Gallahue, sebagai berikut :

Baca Juga :  Putri Sukabumi Menggeliat Lahirkan Pemain Berprestasi
Latihan Kondisi Fisik
Gambar 1. Pembagian Physical Abilities

Dari gambar-gambar diatas, dapat diperoleh kejelasan bahwa komponen kondisi fisik terdiri dari kekuatan otot, daya tahan otot, daya tahan peredaran darah dan pernafasan, serta fleksibilitas persendian. Sedangkan yang termasuk motor fitness terdiri atas; kecepatan, koordinasi, agilitas, daya ledak otot, dan keseimbangan.

Dengan demikian setiap atlet hendaknya dilatih komponen-komponen kondisi fisiknya tersebut dengan program latihan yang disusun sesuai dengan prinsip-prinsip latihan. Selanjutnya Harsono (1988) mengemukakan bahwa, “Sebelum diterjunkan ke dalam gelanggang pertandingan seorang atlet harus sudah berada dalam suatu kondisi fisik dan tingkatan fitness yang baik untuk menghadapi intensitas kerja dan segala macam stress yang bakal dihadapinya dalam pertandingan.”

Proses conditioning dalam olahraga adalah suatu proses yang harus dilakukan dengan hati-hati dan perhitungan yang matang, karena proses ini berkenaan dengan organ-organ vital manusia seperti Jantung dan Paru-paru. Sesuai dengan yang dikatakan oleh Harsono (1988) dalam bukunya Coaching dan Aspek-aspek Psikologi dalam Coaching bahwa “Proses conditioning harus dapat membangkitkan reaksi-reaksi yang positif dalam organisme tubuh kita, yaitu kemajuan dalam organisasi neurophysiologis kita, dan kemajuan dalam penyesuaian perubahan-perubahan (adaptive alterations) dalam jaringan-jaringan tubuh kita.”

1. Kekuatan (Strength)
Strength adalah kemampuan otot untuk membangkitkan tegangan tehadap suatu tahanan (Harsono:1988). Selanjutnya menurut Thomas (1992), yang dimaksud dengan kekuatan dalam kemampuan untuk mengeluarkan tenaga secara maksimal dalam suatu usaha. Hal ini dapat diukur dengan satu repetisi usaha maksimum atau “1RM”.

Kekuatan merupakan komponen yang paling mendasar dan sangt penting dalam olahraga. Karena kekuatan merupakan daya penggerak setiap aktivitas fisik, berperan untuk mencegah cedera, dan merupakan komponen dasar bagi komponen kondisi fisik lainnya.
Meskipun banyak aktivitas olahraga lebih memerlukan agilitas, speed, keseimbangan koordinasi dan sebagainya, tetapi faktor tersebut harus dikombinasikan dengan kekuatan agar diperoleh hasil yang baik. Jadi kekuatan merupakan basis bagi komponen kondisi fisik lainnya.

Berapa banyak kekuatan dibutuhkan oleh seseorang dalam suatu cabang olahraga ? hal itu tidak ada jawaban yang jelas. Karena setiap atlet dan cbang olahraga memiliki kekhasan masing-masingyang berbeda. Tetapi yang pasti bahwa atlet bulutangkis harus memiliki kekuatan untuk melakukan aktivitas olahraganya secara efisien.

Latihan-latihan untuk mengembangkan kekuatan diantaranya adalah latihan tahan. Menurut type kontraksi ototnya latihan tahanan dapat dibedakan yaitu latihan kontraksi isometris, kontraksi isotonis, dan kombinasi kedua kontraksi tersebut yaitu isokinetis.
Dalam latihan kontraksi isotonis akan nampak adanya gerakan dari anggota tubuh.

Baca Juga :  PK KNPI Jampangtengah Terima Bantuan untuk Pembangunan Lapangan Sepakbola

Hal ini terjadi karena ada gerakan memendek dan memanjangnya otot, sehingga terdapat perubahan dalam panjang otot. Kontraksi ini disebut juga kontraksi dinamis.

Latihan kontraksi isokinetis merupakan kombinasi dari isometrik dan isotonis yaitu dilakukan melalui alat-alat tertentu yang diatur sedemikian rupa sehingga jika latihan diawali dengan isometrik kemudian setelah beberapa detik terjadi kontraksi isotonis. Misalnya seseorang berusaha mendorong mobil yang direm, maka mobil tersebut tidak dapat bergerak setelah beberapa detik remnya dilepas maka mobil bergerak dan terjadilah kontraksi isotonis.

2. Daya Tahan (Endurance)
Yang dimaksud dengan daya tahan dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu daya tahan otot atau muscle endurance dan daya tahan cardio respiratori. Yang dimaksud dengan daya tahan otot (muscle endurance) yaitu kemampuan otot untuk melakukan kontraksi atau bekerja dalam waktu yang relatif lama. Sedangkan yang dimaksud dengan daya tahan cardiorespiratori atau daya tahan peredaran darah dan pernafasan adalah keadaan atau kondisi tubuh yang mampu untuk bekerja dalam waktu yang lama, tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan setelah menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Daya tahan sirkulasi repiratori biasanya disebut juga cardio vasculer endurance. Oleh karena itu untuk melatih komponen daya tahan otot dan daya tahan respiratori sedikit berbeda.

Untuk meningkatkan daya tahan respiratori diperlukan beberapa bentuk latihan dalam waktu yang relatig lama. Daya tahan otot dan respiratori adalah sistem kerja pada tingkat aerobik yaitu pemasukan (supply) oksigen masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan yang dilakukan oleh otot.
Latihan untuk meningkatkan daya tahan diantaranya adalah ; fartlek, interval training, dan cross country.

Fartlek
Disebut juga speed play, yaitu suatu sistem latihan endurance yang maksudnya adalah untuk membangun, mengembalikan, atau memelihara kondisi tubuh seseorang.

Diciptakan oleh Gosta Holmer dari Swedia. Fartlek merupakan salah satu bentuk latihan yang sangat baik untuk mengembangkan daya tahan hampir pada semua cabang olahraga, terutama cabang olahraga yang memerlukan daya tahan.

Menurut penciptanya, fartlek dilakukan dialam terbuka yang ada bukit-bukit, belukar, tanah rumput, tanah lembek dan sebagainya. Maksudnya adalah bahwa fartlek tersebut bukan dilakukan pada jalan raya atau trek yang pemandangannya membosankan.

Baca Juga :  MotoGP Rep. Ceko: Starting Grid

Dalam melakukan fartlek, atlet atlet dapat menentukan sendiri intensitas dan lamanya latihan tergantung kepada kondisi atlet yang bersangkutan pada saat itu.

Olah karena itu, atlet bebas untuk bermain-main dengan kecepatannya sendiri serta bebas membuat variasi kecepatan, jarak, dan rute yang akan dilaluinya.

Sebaiknya latihan fartlek dilakukan pada awal-awal musim latihan jauh sebelum masa pertandingan atau preseason. Tetapi ada pula beberapa pelatih yang memberikan latihan fartlek ini pada musim-musim peningkatan juara atau menjelang pertandingan sebagai variasi latihan guna menghindari kejenuhan dalam menghadapi latihan yang relatif padat.

Interval Training
Interval training adalah latihan atau sistem latihan yang diselingi interval- interval berupa masa istirahat. Jadi dalam pelaksanaannya adalah ; istirahat – latihan – istirahat – latihan – istirahat dan seterusnya.

Interval training merupakan cara latihan yang penting untuk dimasukan ke dalam program latihan keseluruhan.

Banyak pelatih menganjurkan menggunakan interval training untuk melaksanakan latihan karena hasilnya sangat positif untuk mengembangkan daya tahan keseluruhan maupun stamina atlet.

Bentuk latihan interval dapat berupa latihan lari (interval running) atau renang (internal swimming) dapat pula dilakukan dalam program weight training maupun circuit training.

Latihan interval dapat dilakukan dalam semua cabang olahraga yang membutuhkan daya tahan dan stamina, seperti atletik, basket ball, renang, voli, sepakbola, bulutangkis dan sebagainya. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam internal training, yaitu;
a. intensitas/beban latihan
b. lamanya latihan
c. repetisi/ulangan latihan, dan
d. recovery internal (masa istirahat diantara latihan)

 Beban latihan dapat diterjemahkan kedalam tempo, kecepatan dan beratnya beban. Sedangkan lamanya latihan dapat dilihat dari jarak tempuh atau waktu, Repetisi dapat ditinjau dari ulangan latihan yang harus dilakukan; kemudian masa istirahat adalah masa berhenti melakukan latihan/istirahat diantara latihan-latihan tersebut.

Contoh interval training untuk endurance yang dilakukan dalam lari (interval running):
Jarak lari : 400 meter
Tempo lari : 75 detik
Repetisi : 12 kali
Istirahat : 3 5 menit

Bentuk latihan interval ini harus disesuaikan dengan kemampuan atlet yang bersangkutan.

Penulis: Risnandar K
Editor: WD

Referensi :
 Drs. Harsono, M.Sc. Coaching dan Aspek-aspek Psikologis Dalam Coaching, Albany, New York, 1988
 Drs. Herman Subarjah, M.Si., Latihan Kondisi Fisik, Bandung.

Print Friendly, PDF & Email

Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here