Infokowasi.com – Di pelosok Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi, berdiri sebuah sekolah yang menjadi harapan bagi puluhan siswa untuk menggapai masa depan. Namun, harapan itu kini dihantui oleh kondisi bangunan yang nyaris roboh. MTs Salman Sarif Hidayatullah, yang berlokasi di Kampung Cikidang, Desa Hegarmulya, menghadapi ancaman serius akibat kerusakan berat yang terus dibiarkan tanpa perbaikan berarti.
Sekolah dalam Bayang-Bayang Reruntuhan
Gedung sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar yang nyaman, kini berubah menjadi ancaman bagi para siswanya. Atap yang lapuk, plafon yang berlubang, dinding yang mulai retak, serta lantai yang rusak menjadi pemandangan sehari-hari di sekolah ini. Setiap hari, 58 siswa yang belajar di sana harus menghadapi risiko besar—atap yang bisa runtuh kapan saja atau dinding yang berpotensi ambruk.
Yandi Cahyadi, seorang tokoh pemuda Cidadap, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi sekolah yang tidak layak ini.
“Sangat mengkhawatirkan. Anak-anak belajar dalam kondisi yang tidak aman. Gedung ini bukan lagi sekadar rusak, tetapi benar-benar membahayakan mereka,” ungkap Yandi saat diwawancarai pada Jumat (31/1/2024).
Kerusakan paling parah terjadi di ruang kelas 7, 8, dan 9, yang sudah dua tahun lebih tidak mendapatkan perbaikan. Ironisnya, meskipun kondisi ini sudah lama berlangsung, belum ada tindakan nyata dari pihak yang berwenang.
Berbagi Ruangan, Bertahan di Tengah Keterbatasan
Karena keterbatasan ruang belajar, siswa MTs Salman Sarif Hidayatullah terpaksa berbagi kelas dengan MI Hegarmulya yang bersebelahan. Namun, sekolah dasar tersebut juga mengalami masalah serupa. Beberapa ruangannya pun sudah mengalami kerusakan. Alih-alih mendapat solusi, siswa-siswa di dua sekolah ini justru harus berbagi keterbatasan.
Pihak sekolah sebenarnya sudah berupaya mencari bantuan, baik dari Kementerian Agama maupun para dermawan. Sayangnya, hingga kini belum ada jawaban yang menggembirakan.
“Kami berharap ada pihak yang peduli dan mau membantu. Pendidikan anak-anak ini terancam jika kondisi sekolah tetap seperti ini,” tambah Yandi.
Harapan Terakhir: Akankah Pemerintah Bertindak?
Masyarakat sekitar berharap ada respons cepat dari pemerintah dan pihak terkait. Jika dibiarkan lebih lama, bukan hanya kenyamanan belajar yang hilang, tetapi juga keselamatan para siswa yang dipertaruhkan.
“Kami ingin anak-anak kami bisa belajar tanpa rasa takut. Pemerintah harus turun tangan sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi,” ujar salah satu warga.
Kondisi ini menggambarkan realitas pendidikan di daerah terpencil yang masih jauh dari kata layak. Sementara perhatian sering tertuju pada pembangunan infrastruktur besar, masih ada sekolah-sekolah seperti MTs Salman Sarif Hidayatullah yang berjuang bertahan di tengah keterbatasan. Pertanyaannya kini, apakah pihak terkait akan bergerak cepat atau justru membiarkan sekolah ini terus menjadi potret keterabaian pendidikan di Indonesia?. (MY Kuncir)









