Infokowasi.com, Sukabumi – Pada masa pandemi covid-19 saat ini, banyak bermunculan permasalahan, selain dibidang kesehatan dan ekonomi, bidang pendidikan pun tidak terkecuali.
Setelah diawal pandemi, solusi pembelajaran melalui metode daring dianggap paling relevan dan presentatif, bahkan bisa disebut futuristik karena menyangkut penggunaan teknologi informasi era 4.0. Metode daring pun masuk menjadi kebijakan pemerintah.
Namun, seiring jalannya waktu metode daring dengan berbagai aplikasi ini pun bukan tidak memiliki permasalahan serta pro kontra, terlebih di wilayah pedesaan.
Permasalahan pun timbul, dari para pengguna model pembelajaran daring, tidak sedikit orang tua merasa keberatan. Seperti beberapa contoh permasalahan, adanya sebagian peserta didik tidak memiliki gawai/gadget/android sebagai sarana online pembelajaran, adanya alasan tidak mumpuni mencukupi pembelian kuota untuk bisa terhubung dalam pembelajaran online, bahkan lemahnya jaringan internet pun turut menjadi permasalahan.
Kini metode Pembelajaran Jarak Jauh di luar jaringan (PJJ luring) atau Belajar Dari Rumah (BDR) mulai diterapkan dibeberapa tempat. Beberapa tenaga pengajar pun sudah berimprovisasi melakukan PJJ luring agar tidak berbenturan dengan protokol kesehatan.
Hari ini infokowasi.com mencoba menampilkan beberapa sample tenaga pengajar dengan metode PJJ luring/BDR di Jampangtengah.
Enung Nuryani,S.Pd. SDN Bojongduren Kecamatan Jampangtengah menuturkan selama satu hari kelasnya dibagi menjadi tiga kelompok belajar 8 Cibasan, Bojongduren, serta Pamoyanan, kisaran lima peserta didik dengan lokasi rumah saling berdekatan, seluruhnya dalam koridor protokol kesehatan, selanjutnya Enung mengunjungi setiap kelompok secara bergantian.

Supandi, S.Pd. SDN Citalahab Kecamatan Jampangtengah mensiasati pembelajaran luring mengingat keadaan sarana untuk daring cukup sulit, akhirnya Supandi memutuskan membagi Kelasnya menjadi tiga kelompok belajar, Citalahab, Simpangsamid, serta Pasirnangka. Halnya Enung, Supandi pun berkeliling menemui anak didiknya sesuai titik kumpul.

Selanjutnya Risma Yuana, S.Pd. SDN Bojongjengkol 2 Kecamatan Jampangtengah pun menjelaskan metodenya sampai berkeliling dilima titik kelompok belajar. Area titik PJJ luringnya dari Bungur, Bojongjengkol, sampai Cicepe.

Sample keempat Lia Rustiani, S.Pd. SDN Cibuyung halnya rekan-rekannya tersebut di atas Lia pun membagi kelasnya menjadi empat kelompok belajar, Cisarua, Cibuyung, Cijambu, serta Cimadang.
Dari beberapa contoh di atas menunjukan bahwa para tenaga pengajar terus berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi siswa didiknya, ketika daring terlalu sulit diterapkan terlebih dengan embel-embel cemoohan dari segelintir oknum, PJJ luring atau BDR pun dilakukan.
Dengan resiko guru harus mengeluarkan tenaga ekstra serta biaya transport berlipat. Sangat disayangkan ketika ada statemen tidak bertanggungjawab dengan penyelesaian permintaan maaf atau berganti status menjadi ODGJ.
Laporan : Robi Sugara
Editor : Wandi









