Psikosomatik atau Covid-19

Psikomatik - infokowasi / hms.harvard.edu
Psikomatik - infokowasi / hms.harvard.edu

Sukabumi (Infokowasi.com) – Saat ini publik selalu disuguhkan berita-berita negatif tentang Pandemi Corona (COVID-19), hal ini menyebabkan kekhawatiran publik meningkat. kekhawatiran berlebihan mengenai virus corona dapat menyebabkan tubuh menciptakan gejala seperti Covid-19.

Padahal gejala tersebut mungkin bukan penyakit dari Covid-19 itu sendiri, melainkan gejala penyakit Psikosomatik. Apakah Psikosomatik?

Psikosomatik adalah suatu kondisi atau gangguan ketika pikiran memengaruhi tubuh, hingga memicu munculnya keluhan fisik. Perasaan yang tenang dan bahagia ternyata berkorelasi dengan kesehatan mental yang baik, seperti ditulis dalam Medicaljournals.se.

Pacuan sistem hormon adrenal yang berlangsung lama dihubungkan dengan penekanan sistem imun (sistem kekebalan tubuh) karena hormon steroid. Hal ini menerangkan mengapa seseorang dengan stres kronik lebih mudah sakit. Pacuan sistem saraf simpatis menerangkan munculnya hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner akibat stress emosional. Menjaga komunikasi tetap lancar antara anggota keluarga bisa menjadi salah satu faktor mencegah gangguan psikosomatik.

Baca Juga :  Info Terbaru (1/6) Data Covid-19 Kabupaten Sukabumi

Depresi psikosomatik berhubungan dengan setiap penyakit yang memiliki gejala fisik. Psikosomatik, alias penyakit yang disebabkan oleh faktor mental yang didorong oleh kekhawatiran yang berlebihan.

Psikosomatik adalah gangguaan fisik yang disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan dan sosial. Seseorang jika emosinya menumpuk dan memuncak maka hal itu dapat menyebabkan terjadinya goncangan dan kekacauan dalam dirinya.

Jika faktor-faktor yang menyebabkan memuncaknya emosi itu secara berkepanjangan tidak dapat dijauhkan, maka ia dipaksa untuk selalu berjuang menekan perasaannya. Perasaaan tertekan, cemas, kesepian dan kebosanan yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kesehatan fisiknya. Jadi Psikosomatik dapat disebut sebagai penyakit gabungan, fisik dan mental, dimana yang sakit sebenarnya jiwanya, tetapi menjelma dalam bentuk sakit fisik.

Baca Juga :  Laskar NKRI Purwakarta Bagikan Dua Ribu Masker dan Satu Ton Beras Kepada Masyarakat

Bila tak juga ditemukan penyebab medis dari keluhan Anda, serta sudah sampai mengganggu kehidupan sehari-hari, mulailah berkonsultasi kepada tenaga kesehatan mental seperti psikiater atau psikolog. Sampaikan Anda telah diperiksa oleh banyak dokter dan mereka tak menemukan penyebab penyakit Anda. Bahkan, menurut sebuah riset di Amerika Serikat, kadang tenaga medis pun tidak mempertimbangkan kemungkinan psikosomatik dan salah mendiagnosis pasien dengan masalah ini.

Sementara, contoh dari jalur jenis kedua umumnya ditandai gejala, semacam rasa lelah yang tak berkesudahan, diare, atau sakit kepala hebat. George Soros, miliarder kelahiran Hungaria yang disebut andil dalam rontoknya nilai tukar rupiah pada 1998 di Indonesia misalnya, mengaku sakit pinggang dan susah tidur karena gangguan psikosomatiknya.

Baca Juga :  Info Terbaru (14/5) Data Covid-19 Kabupaten Sukabumi
Dikutip healt.detik.com (24 Mar 2020), Untuk mengurangi gejala psikosomatik, dr Andri menyarankan agar mulai membatasi informasi terkait virus corona COVID-19. Selain itu, mulailah untuk melakukan relaksasi 10 menit sehari untuk mengurangi gejala psikosomatik ini.

“Pertama kurangi asupan berita, relaksasi yang benar karena relaksasi penting sekali. Relaksasi adalah cara kita mengelola pikiran dan perasaan kita. Minimal 10 menit relaksasi setiap hati,” pungkasnya.

Print Friendly, PDF & Email
Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here