Rencana Penghapusan BBM Jenis Premium dan Pertalite Dipertanyakan Anggota Komisi VII DPR-RI

Rencana Penghapusan BBM Jenis Premium dan Petralit Dipertanyakan Anggota Komisi VII DPR-RI

Jakarta, infokowasi.com – Komisi VII DPR RI mempertanyakan rencana penghapusan BBM jenis Premium dan Petralite, saat rapat dengan Menteri ESDM, Arifin Tasrif. Diharapakan dalam hal ini diperlukan penyesuaian agar rakyat tidak terkejut. Kamis (25/06)

Menanggapi hal ini, Arifin Tasrif mengatakan, Indonesia adalah satu dari enam negara yang masih menggunakan Premium, yakni BBM berkualitas rendah dengan RON 88. Sementara pemerintah memiliki komitmen untuk mengurangi emisi dalam jangka panjang dan penggunaan BBM berkualitas rendah harus dihentikan.

“Kita memang memiliki komitmen untuk mengurangi emisi dalam jangka panjang, Kita salah satu dari enam negara di dunia yang menggunakan Premium. Untuk kedepannya, karena negara-negara maju sudah menggunakan BBM standar-standar baru untuk mengurangi emisi, jadi ke depannya memang akan ada pergantian (Premium) untuk bisa menggunakan energi yang lebih bersih yang dampaknya bisa mengurangi beban lingkungan,” kata Arifin dalam rapat dengan Komisi.

 

Seperti diketahui, sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 20 Tahun 2017 telah ditetapkan bahwa spesifikasi standar BBM harus lebih ramah lingkungan. Untuk jenis bensin harus memiliki angka RON minimal 91, kandungan sulfur maksimal 50 ppm. Sementara spesifikasi BBM jenis solar yaitu memiliki angka cetane atau CN minimal 51 dan kandungan sulfur maksimal 50 ppm.

Baca Juga :  H. Marwan Hamami Minta PWRI Berperan Dalam Pembangunan dan Penyampai Aspirasi Masyarakat

Selain masalah lingkungan, pengurangan jenis produk juga guna memudahkan dan meningkatkan efisiensi biaya distribusi.

Jika jenis produk yang didistribusikan semakin sedikit, maka biaya distribusi bisa lebih rendah ujungnya bisa berpengaruh terhadap harga BBM ramah lingkungan yang bisa ditekan.

Dalam program KLHK, penerapan standar EURO V untuk kendaraan berbahan bakar bensin akan dimulai di 2023 dan kendaraan solar mulai 2027.

Meski demikian, PT Pertamina (Persero) hingga kini tetap memproduksi BBM RON 88 dalam jumlah besar.

Pertamina berencana memproduksi Premium sebesar 532 ribu KL per bulan dan Solar 975 ribu KL per bulan.

Fajriyah Usman, Vice President Corporate Communication Pertamina, mengatakan pendistribusian BBM RON 88 atau Premium merupakan penugasan dari pemerintah, sehingga Pertamina tidak akan berhenti mendistribusikannya sebelum mendapatkan arahan dari pemerintah.
“Pertamina kan ada penugasan untuk menyediakan dan menyalurkan (Premium), yang dilakukan adalah edukasi dan mendorong,” kata Fajriyah.

Namun Fajriyah menambahkan, Pertamina akan terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya penggunaan BBM yang berkualitas tinggi atau minimal yang memiliki RON 90 ataupun di atasnya .

Baca Juga :  Walikota Sukabumi Tinjau Pelayanan BPJS Kesehatan

“Itu sebabnya banyak program-program promo, cashback dan sebagainya untuk Pertalite, Pertamax dan sebagainya,” kata Fajriyah.

Pertamina hingga kini masih menjual yang tidak memenuhi persyaratan KLHK baik dari sisi angka oktan maupun cetane dan kandungan sulfur, yakni Premium dan Solar/Biosolar. Spesifikasi Premium yakni RON 88 dan kandungan sulfur maksimal 500 ppm. Sementara Solar hanya CN48 dan kandungan sulfurnya masih cukup tinggi di level maksimal 2.500 ppm.

Produk BBM ramah lingkungan Pertamina sesuai regulasi KLHK hanyalah Pertamax Turbo yang dijual dengan harga Rp 9.850 per liter itu memiliki RON 98 dan kandungan sulfur maksimal 50 ppm. Untuk Pertamax dan Pertamax Turbo, meski memenuhi persyaratan RON, kandungan sulfurnya masih maksimal 500 ppm.

Baca Juga :  Penyekatan dan Check Point Terus Dilakukan di Parungkuda

Sementara untuk jenis Solar, hingga kini belum ada yang memenuhi seluruh persyaratan KLHK. Pertamina Dex, misalnya meskipun telah memiliki CN 51, kandungan sulfurnya masih di level maksimal 500 ppm.

Menurut Fajriyah, Pertamina siap menjual BBM yang sesuai dengan aturan main dari pemerintah dengan sedang dilakukannya revitalisasi empat kilang melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) minyak serta pembangunan kilang baru atau melalui Grass Root Refinery (GRR) yang akan menghasilkan BBM diatas syarat yang telah ditetapkan oleh KLHK. “RDMP dan GRR kan meningkatkan kualitas BBM. Kita juga harus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai hal ini,” kata Fajriyah.

Sumber: Bensinku.com

Laporan : Dadan Haekal
Editor : Wandi

Print Friendly, PDF & Email

Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here