Infokowasi.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Sekolah Perempuan Jawa Barat Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis kmarin (26/02/2025) di Desa Cicareuh, Kecamatan Cikidang.
Kepala DP3A Kabupaten Sukabumi, Eki Radiana Rizki, menegaskan bahwa evaluasi ini bertujuan untuk meninjau perkembangan Sekolah Perempuan Jawa Barat pasca-pelaksanaan tahun 2024.
“Kami mendukung inovasi dan peningkatan indikator kerja dalam program ini. Bersama DP3AKB Provinsi Jawa Barat, kami melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan Sekolah Perempuan Jawa Barat di berbagai kabupaten/kota,” tandasnya
Eki juga mengingatkan, agar proses Monev berjalan optimal. “Seluruh pelaksana diharapkan mempersiapkan bahan data dengan baik. Selain itu, perwakilan dinas yang menangani pemberdayaan perempuan, fasilitator, serta alumni Sekolah Perempuan Jawa Barat 2024, baik dari pembelajaran dasar-tematik maupun pelatihan vokasional, juga diharapkan berperan aktif,” ujarnya.
Ditempat terpisah, Kepala Desa Cicareuh, Kecamatan Cikidang, Ramdan Rustarmono, melalui sambungan Whatssup memberikan apresiasi terhadap program Sekolah Perempuan Jawa Barat yang digagas DP3A.
Perlu diketahui bersama bahwa, “Program ini memberikan manfaat besar bagi ibu-ibu di desa kami, terutama dalam peningkatan wawasan dan keterampilan mereka. Namun, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, seperti kendala geografis yang membatasi akses ke pelatihan serta kesulitan dalam memahami dan menerapkan materi dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya, pada jum’at (27/02/2025).
Ramdan memberi informasi program ini terus dikembangkan dengan materi yang lebih aplikatif sesuai kebutuhan peserta, khususnya dalam aspek ekonomi dan pengelolaan keluarga.
Pada kata akhir Ramdan mengatakan, “Diperlukan strategi tindak lanjut agar ilmu yang diperoleh bisa diterapkan secara nyata dan disebarkan ke komunitas. Dukungan lanjutan dalam bentuk pendampingan maupun akses ke sumber daya akan sangat membantu ibu-ibu menjadi agen perubahan di lingkungan mereka,” tuturnya. (Robi)









