Dinilai Tak Tepat Sasaran, Pemerintah Didesak Cabut Subsidi LPG 3 Kg

Dinilai Tak Tepat Sasaran, Pemerintah Didesak Cabut Subsidi LPG 3 Kg
Infokowasi.com, Jakarta – Praktisi energi dan ekonom mendesak pemerintah agar segera mencabut subsidi untuk LPG (liquefied petroleum gas) bersubsidi 3 kg. Salah satu alasannya, distribusi LPG bersubsidi 3 kg yang lebih dikenal dengan sebutan gas melon itu dinilai tidak tepat sasaran. Sebab, para pelaku usaha dan pegawai berpenghasilan tinggi ternyata tidak malu-malu ikut memakai LPG bersubsidi 3 kg yang diperuntukkan bagi bagi warga miskin itu.

Ekonom Core Indonesia, Piter Abdullah, mengusulkan, agar pemerintah mencabut saja subsidi untuk LPG 3 kg tersebut/ Kemudian, mekanisme penyaluran dana subsidi itu diubah melalui transfer uang secara langsung kepada warga yang benar-benar miskin.

“Polanya diubah menjadi bantuan langsung tunai, diberikan langsung ke rakyat miskin. Sementara subsidi elpiji gas melon dicabut,” ujar Piter Abdullah,

Menurut Piter Abdullah, dengan transfer uang subsidi secara langsung kepada warga miskin diyakini akan lebih tepat sasaran dan tidak boros menghabiskan anggaran negara. Perubahan mekanisme tersebut justru lebih mudah dilaksanakan pemerintah sehingga setiap saat tidak akan ada kegaduhan soal kelangkaan gas melon. Pasalnya, yang gaduh kehabisan elpiji gas melon justru orang-orang kaya yang seharusnya tidak berhak membeli gas melon.

Baca Juga :  Penambahan Kuota Tak Atasi Masalah Bila Orang Kaya Tak Malu Pakai LPG 3 Kg

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan, juga sependapat dengan Piter Abdullah. Menurut Mamit, apabila subsidi diberikan secara terus menerus maka beban anggaran negara akan terus bertambah, sehingga mengganggu keuangan negara. Pasalnya, saat ini 70% elpiji masih impor sehingga memperlebar defisit neraca perdagangan.

“Perlu ada kebijakan dalam mengendalikan elpiji 3 kg di mana salah satunya adalah distribusi tertutup. Ini lebih jelas asalkan datanya beneran tepat sasaran jangan sampai salah data,” ungkap dia.

Sementara anggota Komisi VII DPR RI, Maman Abdurrahman, juga sependapat dengan Piter Abdullah dan Mamit Setiawan, Masalahnya, orang-orang yang tidak miskin ternyata tidak malu-malu ikut memakai gas melon. Untuk itu, Maman Abdurrahman akan mengusulkan kepada pemerintah agar pola penyaluran subsidi diganti secara tertutup. Artinya, subsidi LPG 3 kg diganti dengan bantuan tunai yang disalurkan langsung kepada warga miskin.

Baca Juga :  SDN Parungseah 1 Dan 2 Terapkan Protokol Kesehatan Sesuai SOP

Anggota Komisi VII DPR RI , Maman Abdurrahman, menilai subsidi tertutup menjadi satu diantara solusi terbaik mengatasi kelangkaan elpiji 3 kg di tengah-tengah masyarakat. “LPG 3 kg diperuntukkan hanya untuk orang miskin. Namun di lapangan elpiji 3 kg menjadi konsumsi mereka yang tidak masuk kategori miskin. Sampai kapanpun selama elpiji 3 kg ini orang-orang yang tidak miskin ikut mengonsumsi, berapapun kuota yang disiapkan, tidak akan pernah cukup,” kata Maman Abdurrahman.

Seperti diketahui, berdasar Undang-undang Nomor 20 tahun 2008 tentang UMKM, penggunaan LPG (liquefied petroleum gas) bersubsidi 3 kg hanya diperuntukkan bagi usaha kecil yang beromzet maksimal Rp 833 ribu per hari. Karena itu, tabung elpiji 3 kg yang dijual PT Pertamina (Persero) sengaja ditulisi kalimat yang jelas, yakni “Hanya untuk Masyarakat Miskin”.

Tapi faktanya, banyak orang mampu tidak malu-malu memakai elpiji bersubsidi 3 kg, baik kalangan pengusaha maupun kalangan pegawai negeri. Jadi tak aneh bila di beberapa daerah kini seringkali terjadi kelangkaan elpiji 3 kg. Akibatnya, warga kurang mampu seringkali tak bisa memperoleh elpiji 3 kg. Salah satu penyebabnya, tidak sedikit kalangan pengusaha restoran suka main borong elpiji bersubsidi yang sebenarnya jadi jatah warga miskin.

Hal inilah yang membuat PT Pertamina sering melakukan operasi pasar. Sementara pemerintah daerah juga terpaksa harus melakukan razia. Salah satunya seperti razia yang dilakukan Satpol PP Kota Pontianak.

Baca Juga :  Rapid Test Merupakan Bagian Dari Skrining Awal COVID-19

Kepala Satpol PP Kota Pontianak Syarifah Adriana mengatakan, pihaknya akan terus melakukan razia guna menertibkan pelaku usaha yang masih menggunakan elpiji tabung tiga kilogram. Dari ratusan tabung elpiji tabung tiga kilogram yang terjaring razia tim gabungan di sejumlah tempat usaha, ada satu rumah makan yang kedapatan menyimpan sebanyak 25 tabung elpiji tiga kilogram.

Laporan: Dadan Haekal
Editor: Wandi

Print Friendly, PDF & Email

Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here