Infokowasi.com – 24 Maret 1946, api perjuangan membakar semangat bangsa. Hari ini, kita mengenang peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api, simbol keberanian dan tekad juang rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Semangat yang tak pernah padam, terus hidup dalam setiap langkah kita menuju masa depan.
Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia, ketegangan dan pertempuran di Kota Bandung mulai muncul antara angkatan bersenjata Indonesia yang baru dibentuk (Badan Keamanan Rakyat dan para penggantinya) dan para pemuda nasionalis Indonesia di satu pihak, dengan pasukan Jepang dan Inggris di pihak lain. Setelah keberhasilan awal Jepang untuk menguasai kota pada bulan Oktober, kedatangan pasukan Inggris menyebabkan pertempuran berlanjut, yang pada awalnya menghasilkan jalan buntu di mana Bandung terbagi menjadi wilayah utara yang dikuasai Inggris dan wilayah selatan yang dikuasai Indonesia.
Menyusul ultimatum untuk mengevakuasi Bandung Selatan secara militer pada bulan Maret 1946, pasukan Indonesia melakukan evakuasi umum di daerah tersebut yang melibatkan ratusan ribu warga sipil, membakar berbagai bangunan dan menjarah gudang-gudang untuk mencegah pasukan Inggris, dan kemudian Belanda, untuk menggunakan gedung-gedung dan persediaan.
Istilah Bandung Lautan Api menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumi-hangusan tersebut. Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, memutuskan strategi yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut.
“Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air.”-A.H Nasution, 1 Mei 1997.
Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.
Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi “Bandoeng Laoetan Api.
(Robi/Dari Berbagai Sumber)









