Tahlilan 7 hari merupakan tradisi yang berkembang kuat di Indonesia. diyakini berasal dari warisan ulama salaf dan budaya Islam yang dibawa oleh para wali dan ulama terdahulu ke Nusantara. Sebagaimana keterangan Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibnu Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan:
ﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻓَـِﺎﻧَّﻪُ ﻳَﻨْـﺘَـﻔِﻊُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﺎﺗِّـﻔَﺎﻕِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ. ﻭَﻗَﺪْ ﻭَﺭَﺩَﺕْ ﺑِﺬٰﻟِﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍَﺣَﺎ ﺩِﻳْﺚُ ﺻَﺤِﻴْﺤَﺔٌ ﻣِﺜْﻞُ ﻗَﻮْﻝِ ﺳَﻌْﺪٍ ( ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍُﻣِّﻲْ ﺍُﻓْﺘـُﻠِﺘـَﺖْ ﻧَﻔْﺴُﻬَﺎ ﻭَﺍَﺭَﺍﻫَﺎ ﻟَﻮْ ﺗَـﻜَﻠَّﻤَﺖْ ﺗَﺼَﺪَّﻗَﺖْ ﻓَﻬَﻞْ ﻳَﻨْـﻔَـﻌُﻬَﺎ ﺍَﻥْ ﺍَﺗَـﺼَﺪَّﻕَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻧَـﻌَﻢْ , ﻭَﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﻳَـﻨْـﻔَـﻌُﻪُ ﺍﻟْﺤَﺞُّ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍْﻻُ ﺿْﺤِﻴَﺔُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟْﻌِﺘْﻖُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻭَﺍْﻻِﺳْﺘِـْﻐﻒُﺭﺍَ ﻟَﻪُ ﺑِﻼَ ﻧِﺰﺍَﻉٍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍْﻷَﺋِﻤَّﺔِ .
“Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam” (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/314-315)
Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada:
ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺍُﻫْﺪِﻱَ ﻟِﻤَﻴِّﺖٍ ﺛَﻮَﺍﺏُ ﺻِﻴﺎَﻡٍ ﺍَﻭْ ﺻَﻼَﺓٍ ﺍَﻭْ ﻗِﺮَﺋَﺔٍ ﺟَﺎﺯَ ﺫَﻟِﻚَ
Artinya: “jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an / kalimah thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan”. (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322)
Tahlil dan doa Bersama untuk almarhumah Ibu sepuh akan diadakan di Pondok Pesanten Sunanulhuda pada hari Senin Malam Selasa tanggal 23 Juni 2025 jam 18:30 WIB sd selesai dan Insya Allah akan dihadiri dari seluruh Alumni mutaqaddimien dan mutaa’khirien dari luar kota bahkan luar pulau Jawa bersama para Muhibbien, ribuan jama’ah pengajian malam Sabtu dan jama’ah sholawatan malam Rabu serta para orang tua santri dan Masyarakat umum.
Hj. Euis Nurlaila yang dikenal dengan sebutan “Ibu Sepuh” adalah puteri pertama dari pasangan KH. Idam Damiri bin Mohamad Faqih dan Hj. Mun Yunarni binti H. Yunus, merupakan isteri dari Buya KH. Dadun Sanusi Pendiri Yayasan Sunanulhuda – Cikaroya, Sukabumi. Lahir di Sukabumi pada 9 September 1949 dan wafat di usia 74 tahun saat waktu Maghrib pada hari Senin, 16 Juni 2025 di Pondok Pesantren Sunanulhuda.
Ibu Sepuh menikah dengan Buya KH. Dadu Sanusi pada tahun 1964, saat usia 15 tahun dan Buya berusia 23 tahun, saat Buya baru setahun memimpin Ma;had Sunulhuda setelah wafatnya Ayahanda beliau Mama KH. Uci Sanusi bin Sarbini tahun 1963. Awal perkenalan dengan Buya dari Mualim Jejen – Jl. Cagak Cibaraja, Sukabumi saat Buya Curhat ingin mencari pendamping hidupnya, sehingga Mualim Jejen dan istrinya memberitahukan bahwa : “ada seorang gadis yang ramah dan lugu serta cantik rupawan cucunya H. Yunus, ia sering leat sini apabilahendak pulang ke rumahnya di kampung Talaga dari Kampung Cipoho tempat pesantrennya”. Setelah mendapat kabar tersebut Buya beserta ibu dan kakak perempuannya (Hj. Aminah – Isteri KH. Ilyas Tafsiri) bertandang ke rumah gadis tersebut yang tak lain adalah Ibu sepuh. (Lia Nuraliah,S.S,MM, 2005, Biografi Buya KH. Dadun Sanusi)

Ibu Sepuh mendampingi Buya Dadun Sanusi dikala suka dan duka mengelola pesantren dan mengasuh santri selama 40 tahun, sampai wafatnya Buya tahun 2004 dan telah dikaruniakan 13 anak :
- KH. E Sholahudin Al Ayyubi Sanusi (alm)
- Dra. Hj. Aidah Nurhayati, MM
- Enung Nurlaila Rahmah (alm)
- Yeni Ratna Yuningsih, S.Ag, MA, Ph.D.
- Lia Nuraliah, S.S, MM
- Lina Rahmawati, S.Ag
- Rika Hilmia (alm)
- KH. Fikri Ali Majid Sanusi (Pimpinan Yayasan Sunanulhuda)
- Rini Nur Fatimah,S.H
- KH. Ali Bekti Sanusi (pimpinan Pesantren Tahfid Sunanulhuda
- K. Alvi Husaini Sanusi, S.Ag
- K. Dede Rizki Fairuzzabadi Sanusi, S.Ag
- K. ilham Ramdani Sanusi, S.H, M.Pd
Ibu Sepuh aktif mengajar santriwati bahkan mengajar Alquran kepada anak-anak kampung sekitar disamping Ibu sepuh terkenal dengan ringan tangannya terhadap Masyarakat luas dan santri terutama “Rajin Bershodaqah”









