Akibat Merebaknya Wabah VIRUS, SAJUTA

Oleh : Dodi Suryadarma Sm (REDPEL)

Beredarnya informasi akan suatu hal yang menakutkan sangatlah kental dengan pemikiran manusia, hal ini mengakibatkan merosotnya pemikiran akal dalam benak kita. Sering kali hal yang menjadikan ketakutan akan merosotnya daya tahan tubuh kita, karena terlalu dalam berpikir akan ketakutan. Untuk itu di sini diperlukan relaksasi dalam menangkap informasi yang berkembang saat ini akan hal yang menakutkan .

Salah satu contoh Yang menakutkan atau dirasa khawatir saat ini adalah beredarnya wabah Pandemik COVID-19 di Indonesia. wabah ini kini sudah memasuki wilayah-wilayah di pelosok Indonesia di setiap wilayah. Jelas saja hal ini menjadi kekhawatiran masyarakat karena takut tertular atas wabah tersebut, yang terpenting bagaimana kita melakukan pola hidup yang baik seperti yang telah diinformasikan oleh pemerintah agar sedianya untuk berdiam diri di rumah menghindari berkembangnya virus Corona, dengan kata lain memutus penyebaran virus Corona, selain itu social distancing juga harus dilakukan.

Baca Juga :  Asabri Sosialisasikan Program Penting Ke Prajurit Armed 13 Kostrad

Wabah  bencana Covid-19 hanya akan bisa diakhiri secara tuntas melalui dua pendekatan, yang pertama pendekatan hukum dan yang kedua pendekatan praktis.

Secara hukum  pencegahan penularan virus dan pengobatannya secara gratis sebagai harus dilakukan oleh negara untuk kemaslahatan rakyat, tentu harus secara totalitas. Dengan dimanajemen penuh oleh negara, tentu mudah menanggulangi bencana virus ini. Negara juga harus mendidik dan membangun kesadaran masyarakat untuk mewujudkan budaya hidup sehat dan manfaatnya untuk generasi demi generasi.

Adapun secara praktis Pemerintah harus melakukan langkah-langkah, manajemen dan kebijakan tertentu; dengan menggunakan Iptek mutakhir serta dengan memberdayakan para ahli dan masyarakat umum dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan dampak virus yang terjadi.

Baca Juga :  Perumda AM TJM Parungkuda Melakukan Perbaikan Saluran Air Bersih

Masyarakat akan bergerak jika mendapatkan edukasi dan keteladanan dari pemimpinnya. Saat menghadapi bencana, sebagai kepala negara, ‘Umar terjun langsung di tengah masyarakat. Hidup bersama mereka, bahu-membahu dengan mereka. Memikul sendiri makanan dari Baitul Mal untuk rakyatnya. Selama 2 tahun, beliau pun tak mau makan keju dan mentega, padahal itu merupakan makanan favoritnya.

Masyarakat dikuatkan mental dan jiwanya untuk tunduk, ridha dan tawakkal kepada Rabb-nya. Pada saat yang sama, mereka ditempa untuk tidak menyerah. Itulah yang disampaikan ‘Umar kepada Abu ‘Ubaidah al-Jarrah dan penduduk Syam saat ditimpa wabah, “Kita lari dari satu Qadar Allah menuju Qadar Allah yang lain.” Secara kolektif, mereka pun diajak untuk memohon kepada Allah, dengan shalat dan munajat. Bahkan, ‘Umar secara khusus mengirim surat kepada penduduk Syam dan Irak untuk mendoakan penduduk Madinah saat ditimpa bencana. Begitu juga sebaliknya, ketika Syam diserang wabah.

Baca Juga :  Gaji Ke-13 Besok Cair

Kini yang dilakukan pemerintah sudahlah maksimal sebuah bentuk perhatian dengan cepat telah diatasinya ,kita sebagai masyarakat hendaknya untuk dapat menjalankan apa yang telah diinformasikan oleh pemerintah, mulai dari berdiam di rumah, sosial distancing dan physical distancing karena hal ini berguna untuk memutus rantai penyebaran wabah COVID 19.

Utuk itu senantiasa kita semua diharapkan jangan terlalu panik, tetap bersyukur kekhadirat Allah atas nikmat hidup. Semoga wabah Pandemik segera berakhir dengan cepat dan tidak menyebar luas. Secara sederhana kita harus menanamkan pola hidup sehat secara tertata dan selalu SAJUTA (Sabar Jujur Tawakal).

Print Friendly, PDF & Email
Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here