Beranda SUKABUMI Batu Kapur Primadona Dan Dilema Jampangtengah

Batu Kapur Primadona Dan Dilema Jampangtengah

Sukabumi, INFOKOWASI.COM

Batu kapur merupakan salah satu bahan galian tipe C yang banyak terdapat di Indonesia. Besarnya potensi tersebut diiringi pula dengan konsumsi batu kapur yang besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Batu kapur atau lebih dikenal Batu Karang memiliki banyak manfaat dan kegunaan, seperti misalnya sebagai Kapur pertanian (kaptan) untuk membantu kesuburan tanah, Bahan campuran bangunan, Bahan baku semen, Bahan baku industri karet dan ban, serta Industri kertas.

Sumber Daya Alam yang memang sangat melimpah di Jampangtengah, karena hampir sebagian besar wilayah memiliki unsur batu kapur atau gamping yang dominan, terlebih desa Padabeunghar yang meliputi wilayah Gunung Sireum.

Perusahan Pertambangan dan pengolahan kapur di Kecamatan Jampangtengah keberadaannya cukup banyak meliputi tiga desa yaitu Desa Padabeunghar 29 perusahaan, Desa Sindang Resmi 2 perusahaan, dan Desa Jampangtengah 1 perusahaan. Keberadaan perusahaan pun bisa dilihat secara langsung karena kebanyakan berlokasi di pinggiran jalan provinsi jalur Sukabumi-Surade.

Kholid Suswandi Kasi Kesra Desa Padabeunghar menuturkan bahwa sesuai data yang ada, di Desa Padabeunghar terdapat 29 perusahaan baik penambangan maupun pengolahan kapur, adapun kepemilikan didominasi pengusaha lokal, perusahaan yang dimiliki pengusaha luar kisaran dibawah sepuluh perusahaan, menurutnya area pertambangan secara umum sangat luas dan volume produksi juga banyak, sayangnya masih belum didukung data yang akurat.

Kholid pun menjelaskan bahwa selama ini perijinan masih belum tervalidasi, pihaknya belum menerima berkas-berkas perijinan dari setiap perusahaan yang ada, kemungkinan perijinan bisa dari dinas di tingkat kabupaten atau provinsi, kebanyakan perijinan berupa perjanjian dengan warga setempat, pungkasnya.

Dalam penjelasannya Sekmat Jampangtengah, Isep Rachmat Syaeful, S.Pd., menyatakan keberadaan perusahaan pengolahan dan penambangan kapur di Jampangtengah seolah menjamur dan tidak tertata rapih, lokasi semrawut dan penggalian yang sembarangan menyebabkan beberapa dampak yang merugikan, beliau pun mencontohkan salah satunya adalah hilir mudiknya mobil perusahaan yang dalam satu hari bisa mencapai 400 kendaraan dengan tonase diatas rata-rata bagaimana tidak mempercepat kerusakan jalan , ujarnya, belum lagi polusi udara yang cukup tinggi dari proses pembakaran, Beliau pun menyayangkan belum terakomodirnya bantuan-bantuan dana sumbangan dari perusahaan sehingga belum dirasakan maksimal sumbangsih terhadap masyarakat, ada sisihan untuk PADes. Beliau pun mengharapkan adanya penataan yang signifikan baik oleh pemerintah desa maupun kecamatan, baik lokasi dan tata kelola maupun legalitas dan perijinan yang harus faktual dan sesuai peraturan, membutuhkan keberanian yang kuat untuk memperbaiki sistem yang sudah berlaku, pungkasnya.

Wawan Supriadi, seorang warga Desa Padabeunghar, memberikan tanggapan, menurutnya memang dilema keberadaan perusahaan-perusahaan tersebut, satu sisi menjadi sumber penghasilan sebagian warga yang menjadi karyawan bahkan pemilik, namun di sisi lain memang memberikan dampak yang kurang baik bagi lingkungan, ujarnya, polusi udara, limbah sisa pengolahan tumpah ruah ke jalan terlebih di musim penghujan, jelasnya.

Memang dibutuhkan penanganan yang ekstra dalam menuntaskan permasalahan yang ada di lapangan mengingat selama ini, belum ada koordinasi membuahkan hasil yang maksimal, antara perusahaan, pemerintah, dan warga, perlu pendekatan dan mediasi yang mendorong perubahan sehingga tidak ada lagi dampak dampak merugikan. –Bersambung

Laporan : Robby Sugara

Editor : YDS

Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

Artikulli paraprakRasa Kasih Sayang Semakin Jauh ?
Artikulli tjetërDidi Kempot Tutup Usia, Dunia Musik Kembali Berduka

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini