Infokowasi.com- Melonjaknya harga beras belakangan terus memantik perhatian, kondisi ini dijelaskan Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Ir. Deni Ruslan, kondisi naiknya harga beras dipicu karena banyaknya aktivitas para petani yang gagal panen akibat cuaca ekstrem atau El Nino yang sebelumnya melanda, ucapnya
“Kita mengalami pergeseran tanam, biasanya petani kita tanam besar itu di September dan Oktober, karena tahun kemarin kita tahu semua bahwa kita mengalami elnino atau kekeringan,” ulas Deni kepada awak media pada belum lama ini.
Lebih lanjut Deni Ruslan mengungkpan, para petani di kabupaten Sukabumi sebagian besar bertani atau bercocok tanam sawah sawahnya terutama daerah selatan kebanyakan sawah tadah hujan, imbuhnya
“Jadi tanam kita bergeser dari biasanya September Oktober menjadi Desember kemarin, karena kita tahu bahwa hujan di akhir Desember itu baru konsisten, kemungkinan biasanya Januari-Februari panen raya,” imbuhnya.
Deni Ruslan menambahkan, dengan kejadian ini kemungkinan besar diprediksikan panen raya padi di Kabupaten Sukabumi secara keseluruhan akan terjadi di bulan April 2024. “Memang bulan Januari kemarin kita panen di angka sementara 22 ribu ton untuk gabah, kemungkinan di bulan April kita panen raya 122 ribu ton itu prediksi kami,” ujatnya.
Sementara itu Ujang (44) salah seorang pedagang beras mengungkapkan kenaikan harga beras sudah terjadi sejak sepekan sebelumnya yakni di tanggal 1 Februari 2024, diakibatkan pasokan berkurang dari sentra penghasil beras, ucapnya
“Sekarang memang tidak beli beras produksi di Banten dan Jampang karena sudah tidak ada, akibat gagal panen, sekarang mengambil stok dari luar itu seperti Demak, Jawa timur, Cirebon, tapi tidak banyak,” timpalnya.
“Tentunya berpengaruh pembeli berkurang, apalagi sekarang katanya sudah ada lagi beras dari pemerintah beras satuan pasokan harga pangan (SPHP) per Kg Rp 10.600,” , ungkapnya.
Redaksi









