Dua Ulama Serambi Gunung Salak (Salakaraya)

Dua Ulama Serambi Gunung Salak (Salakaraya)
Mama Afandi Alyamani Bin Syech Yusuf Al Yamani dan K.H.R. Aang Abdulloh Khudri Bin Muhammad Buya Safeii.

Sukabumi, infokowasi.com

Mahad Islamiyah Tarbiyatul Falah Al Afandiiyah Sadamukti dan Mahad Islamiyah Taman Cahaya Hati Iqbalna Alinsyiroh Cigadog di Kecamatan Cicurug Kabupaten Sukabumi

Gunung Salak bisa terlihat disaat melintasi kawasan lintasan Bogor-Sukabumi.

Sebahagian “Wajah” Gunung Salak merupakan satu Karesidenan di Jawa Barat yang disukai oleh Ir. Sukarno, di sini pula ada dua tokoh Utama dalam Keulamaan fase Pangeran Santri Bin Bahauddin Al Bantani dan Eyang Santri Mataram, dua tokoh Asal Banten dan Cirebon, sebagaimana Sejarah Kesultanan antara Banten dan Cirebon, begitu mempengaruhi Sebuah Gunung yang dijadikan tempat Tirakat oleh Ir. Sukarno dan Para Murid Ulama-Ulama tersebut di atas.

Pangeran Santri Bin Bahauddin makbarohnya ada di kaki Gunung Salak Aulia Babat Kerajaan Salakaraya, mempunyai Murid Ayah Saumi (K.H. Abdullah), beliaulah yang melahirkan Ulama-Ulama dan di Duriyahnya, K.H. Mukti, K.H. Buyai Safeii, K.H. Badri dan K.H.R. Abduloh Khudri. Sehingga semua santri beliau dianjurkan bertirakat di makam Pangeran Santri Bin Bahauddin Albantani.

Historis sejarah di atas membuat Salakaraya atau Gunung Salak memuat sejarah Bumi Tirakat Nusantara sehingga Ir. Sukarno sering bertirakat di Wilayah Cijeruk dan Cidahu yang berada di Salakaraya Gunung Salak.

Pada fase selanjutnya Gunung Salak Daerah Cicurug menjadi bukit gunung dua yaitu Desa Tenjolaya Kampung Cigadog dan Desa Cisaat yang terusanya menjadi Sadamukti.

 

  • Tokoh pertama adalah Mama Apandi Alyamani Bin Syech Yusuf Alyamani, Ulama Kharismatik yang mendirikan Pondok Pesantren Tarbiyatul Falah pada Tahun 1926.

Mama Apandi Alyamani mendidik santri dengan kemahiran penguasaan Kitab Kuning dan kemahiran berbahasa Arab, tak heran jika pengaruh beliau meluas ke wilayah Bekasi, Kerawang, Kabupaten Bogor, Purwakarta juga Banten.

Banyak sekali murid Mama Apandi Alyamani (Pondok Pesantren Tarbiyatul Falah) yang kemudian berhasil mendirikan pondok-pondok di daerahnya.

Mama Apandi Alyamani menjadi salah satu Ulama Sukabumi yang berprisinsip “Kemajuan dan Pencerahan”

Pondok Pesantren Mama Apandi Alyamani diteruskan oleh Putra Putrinya dan Putra Putrinyalah yang meneruskan diantaranya K.H. Asep Apandi.

Baca Juga :  LAUNCHING PAUD ALQURAN, WABUP "AKTUALISASI VISI MISI KABUPATEN SUKABUMI"

K.H. Asep Apandi Ketua Majelis Ulama Indonesia Cicurug Kabupaten Sukabumi dan Menjadi Cendekiawan yang mempunyai gagasan modern dan menjembatani Kultur Pesantren yang Klasik, sehingga Pondok Pesantren Tarbiyatul Falah Alafandiyah adalah Model Pesantren Post Modern dan Tradisional.

Dari sisi Sanad Ilmu Pesantren ini bersambung Sanad ke Ulama Yaman.

Mendiang Almarhum K.H. Asep Apandi, perhatiannya cukup besar terhadap penguatan Ulama dan Umaro, juga berthariqoh di JATMAN, sehingga JATMAN Sering mengadakan Kegiatan.

Alhamdulillah Habib Maulana Lutfi Bin Yahya bisa hadir di Pondok Pesantren Tarbiyatul Falah Alafandiyah.

Berkah K.H. Asep Apandi bermunculan Ulama muda meneruskan kepemimpinan Pesantren Tarbiyatul Falah.

Setelah Almagfurllah K.H. Asep Apandi, Pondok Pesantren dilanjutkan oleh putra pertamanya, yaitu Ajengan Dudi Sadudin, yang mempunyai Keahlian Falakiyah dan Menjadi Ketua Falakiyah PCNU Kab.Sukabumi.

Ajengan Dudi Sadudin sehari-hari membina santri yang datang dari berbagai daerah Jawa Barat, Banten dan Sumatra.

Pesantrennya sangat unik, karena sering dimintai nasehat semua kalangan dalam kaitan dengan Politik dan lain sebagainya.

Bahkan Sering Tokoh-tokoh politik memohon dido’akan untuk bisa mengurus amanah dengan baik.

Ajengan Dudi Sadudin memfokuskan “Keteladanan Santri dan Kepeloporan Santri”.

Disamping mengasah penguasaan Agama, berbagai Kitab Nahwu, Shorof, Tajwid, dan lainnya, serta hadirnya Pendidikan Formal: MI, MTs, SMA, SMK, juga beliau mendirikan perbantuan BLK agar santri diberikan juga kemahiran Wira Usaha di Pondok Pesantren Tarbiyatul Falah Alafandiyah yang berada di Sadamukti Desa Tenjolaya Kecamatan Cicurug Kabupaten Sukabumi.

 

  •  Tokoh Ulama selanjutnya K.H.R. Buya Muhammad Safei adalah Putra Buya Hasan Sadzeli tokoh Ulama Mataram keturunan Kerajaan Sukapura Daun Ngora.

Beristri Ipung Putri K.H. Abdullah (Ayah Saumi) murid Pangeran Santri Bin Bahauddin Al Bantani kampung Cisaat Desa Cisaat Kecamatan Cicurug.

Pengaruhnya ke kampung Cigadog sehingga Cigadog menjadi bagian dari Cisaat atau sebaliknya karena Putranya Ayah Saumi mengayomi Masyarakat Cigadog, K.H. Mukti dan Peninggalanya mendirikan Masjid di Kampung Cigadog yang dimulai oleh tokoh setempat yaitu H. Ijot yang mempunyai Putra H. Mahmuddin yang mempunyai putri dinikahkan dengan Mama Toi.

Baca Juga :  Info Terbaru (16/5) Data Covid-19 Kabupaten Sukabumi: PDP Bertambah 8

Pada Generasi Berikutnya Lahir Ulama Kharismatik Ahli Fiqih dan Hikmah Kemudian Ahli Riyadoh dan Tasaswuf yaitu K.H.R. Abdullah Khudri.

K.H.R. Abdullah Khudri tokoh Nahdlatul Ulama yang nyentrik di kalangan Ulama Sukabumi karena beliau mendalami berbagai Ilmu.

Disamping Ahli Fiqih, hikmah, tasuwuf, beliau menjadi Guru Besar Pendekar Mustika Karuhun Pencak Silat yang menjadi Pagar Barisan Hizubullah Pimpinan K.H. Badri (Paman beliau) yang menjadi bagian sejarah pimpinan Penumpasan Pasukan Belanda di Bojongkokosan.

Ada Tradisi yang melekat sampai sekarang yaitu :
Tradisi Silat “Aang Khudri”

K.H.R. Abdullah Khudri adalah Pendakwah Nahdlatul Ulama yang begitu berpengaruh, terbukti karena beliau ditugasi Dakwah oleh PBNU berdasarkan Perintah K.H. Idam Kholid Ketua Umum PBNU (saat itu) dengan mengutus Habib Hamid Alatos sehingga Habib Hamid Alatos menjadi salah satu murid beliau dan Beliau adalah Syuriah PBNU.

K.H.R. Abdullah Khudri ditugasi Dakwah Risalah Ahlussunah Waljamaah ke berbagai daerah meliputi Jawa Barat dan Banten.

Atas mandat PBNU lewat Habib Hamid Alatos, K.H.R. Abdullah Khudri selalu berkeliling memenuhi Panggilan Warga Nahdliyyin di Jawa Barat.

K.H.R. Abdullah Khudri mewariskan Majelis Salafiiyah Badriyah di tempat beliau di Desa Cisaat Kecamatan Cicurug.

Beliau disemayamkan di Makbaroh bersama ayahnya Abuya Muhammad Safeii dan Pamannya K.H. Badri.

Lain dengan Kampung Cigadog diteruskan oleh keturunan beliau K.H.R. Badri Khudri dan H. Iqballuddin.

Setelah K.H.R. Badri Khudri Wafat Masjid Baiturrahman Lembaga Lembaga Pendidikan Islam Yayasan Annazhiriyah Cigadog dan Pondok Pesantren Taman Cahaya Hati Iqbalna Alinsyiroh Cigadog Cicurug,

Pada Tahun 2019 yang diprakarsai oleh Ustadz Brahma Kumbara (UBK) diadakan Kegiataan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan dihadiri oleh Ketua Umum PBNU Prof.Dr. K.H. Said Aqil Siroj

Pada Tahun 2011 K.H. Dr. Nuril Arifin Husein singgah di Cigadog tepatnya di Pondok Pesantren Taman Cahaya Hati dan Pondok Pesantren Alinsyiroh Cigadog Cicurug Sukabumi atas prakarsa Gus Saddad yang aktif di Forkahgama dan Gusdurian Nusantara juga berteman dekat dengan Kang Fuadz Ketua Umum Paguyuban Jalak Banten (PJB).

Baca Juga :  Info Terbaru (21/5) Data Covid-19 Kabupaten Sukabumi : PDP +5

Gus Saddat (Muhammad Anwar Saddat R. Abdullah Khudri) yang sebelumnya aktif menjadi Ketua Lakpesadam PCNU Kota Bogor adalah Alumni Pondok Pesantren Tebuireng.

Muhammad Anwar Saddat R. Abdullah Khudri (Gus Saddat) yang sekarang adalah Ketua MWC NU Cicurug dan Ketua PC JIHNU (Jamiiyah Ismul Haq Nahdlatul Ulama) Kabupaten Sukabumi, atas permintaan keluarga mengurus Yayasan Annazhiriyahh.

Muhammad Anwar Saddat R. Abdullah Khudri sekarang merintis Pondok Kecil Tasawuf Pesantren Taman Cahaya Hati Iqbalna Alinsyiroh, sebuah nama yang diberikan ayahnya, yaitu H. Iqbal dan Al Insyiroh pada tahun 2020 sudah terbit SK Kemenag Ijin Operasional.

Pesantren Iqbalna Alinsyiroh, sebuah nama yang diberikan oleh Guru Gus Saddat saat di Pondok Pesantren Tebuireng yaitu K.H. Dr. Mustaiin Safeii (Direktur Madrastul Quran Tebuireng).

Pondok yang sebelumnya dirintis melalui Yayasan Annazhiriyah Oleh Pendiri K.H. Muhammad Subhan yang mendirikan pendidikan Formal, MDTA, MI, MTs, SMK, kini atas bimbingan K.H. Bahrul Ulum Mujiz Ismul Haq Nahdlatul Ulama Pusat Mojokerto sekaligus meminta Gus Saddat menjadi Pengurus Cabang JIHNU.

Oleh karenanya marak lah kegiatan-kegiatan JIHNU di Pondok Pesantren Iqbalna Alinsyiroh.

Kegiatan seperti Izazah Ismul Haq, Sholawat Arbain dan Hizib Qubro, Pengajian Tasawuf Kitab AlHikam.

Mama Apandi Alyamani dan K.H.R. Aang Abdulloh Khudri adalah Dua Ulama Kharismatik pada Babat Sejarah Ulama Serambi Gunung Salak Salakaraya

Semoga kita adalah bagian yang konsisten meneruskan perjuangan Dakwah Ulama dan meneladani nilai-nilai yang telah diwariskan dari para Ulama khususnya dua Ulama Serambi Gunung Salak (Salakaraya) agar berkah serta bermanfaat untuk Agama, Negara dan Bangsa Indonesia.

[Di Kawasan Salakaraya Sadamukti Cisaat Cigadog Kawasan Gunung Salak. Ditulis Kajian Nahdliyyin Santri Arus Bawah]

Penulis : Dadan Haekal

Editor : Wandi

Print Friendly, PDF & Email

Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

2 KOMENTAR

  1. Sebuah catatan sejarah yang berakar igga saat ini yang perlu diketahui oleh masyarakat khususnya warga Cicurug dan umumnya kaum muslimin dimanapun adanya bahwasanya daerah Cicurug salah satu pusat perkembangan agama Islam dan lahirnya tokoh tokoh Islam yang cukup disegani karena keilmuannya dan komitmennya dalam bidang pendidikan melalui pesantren.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here