Infokowasi.com — Secangkir kopi kerap menjadi teman untuk mengawali hari, menemani obrolan, hingga menjadi pelengkap di tengah kesibukan. Namun, bagi Kopi Kawani, secangkir kopi memiliki cerita yang lebih panjang. Di balik aroma dan cita rasanya, terselip semangat pemberdayaan, kepedulian, serta keinginan untuk berbagi dengan sesama.
Usaha kopi yang dikembangkan oleh Hani tersebut hadir dengan konsep yang tidak semata-mata mengejar penjualan. Kopi Kawani berupaya menjadikan aktivitas usaha sebagai ruang untuk membuka kesempatan bagi masyarakat, termasuk para ibu penyandang tuna rungu, agar dapat bekerja, berkarya, dan memiliki ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Dalam wawancara bersama Radio Citra Lestari (RCL), Hani selaku Owner Kopi Kawani mengungkapkan bahwa sejak awal dirinya ingin membangun sebuah usaha yang memiliki manfaat lebih luas bagi lingkungan sekitar.
“Kita ingin Kopi Kawani bukan hanya tentang kopi, tetapi juga bagaimana dari kopi ini kita bisa berbagi dan memberikan manfaat untuk sesama,” ujar Hani.
Semangat tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai bentuk nyata. Salah satunya melalui keterlibatan para ibu penyandang tuna rungu dalam kegiatan usaha Kopi Kawani.
Bagi Hani, kesempatan untuk bekerja dan berkarya bukan sekadar persoalan ekonomi. Lebih dari itu, kesempatan tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang yang inklusif, di mana setiap orang memiliki peluang untuk berkontribusi dan berkembang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Tak berhenti pada pemberdayaan, Kopi Kawani juga menyisihkan sebagian hasil penjualannya untuk mendukung pendidikan penyandang disabilitas.
Sekitar 5 hingga 10 persen hasil penjualan dialokasikan untuk membantu kebutuhan sekolah disabilitas atau Sekolah Luar Biasa (SLB).
Langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian Kopi Kawani terhadap dunia pendidikan sekaligus upaya memberikan dukungan bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar tetap mendapatkan kesempatan belajar dan berkembang.
“Ada bagian dari hasil penjualan yang kami sisihkan untuk sekolah disabilitas atau SLB. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan ini bisa terus memberikan manfaat,” tambah Hani.
Dari Secangkir Kopi Menjadi Gerakan Berbagi
Konsep yang dibawa Kopi Kawani memberikan makna tersendiri bagi setiap produk yang dinikmati pelanggan. Ketika seseorang membeli dan menikmati kopi tersebut, secara tidak langsung terdapat bagian dari transaksi yang turut diarahkan untuk kegiatan sosial.
Dengan demikian, aktivitas sederhana seperti menikmati kopi dapat berubah menjadi sebuah bentuk kepedulian.
Kopi Kawani tersedia dengan kisaran harga Rp30 ribu hingga Rp70 ribu. Masyarakat yang ingin menikmati sekaligus mendukung semangat pemberdayaan tersebut dapat melakukan pemesanan dengan datang langsung ke Perumahan Sampiren Regency Blok N1, Desa Nyangkoek, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.
Pemesanan juga dapat dilakukan melalui nomor 0858-1066-4304.
Bagi Hani, perjalanan Kopi Kawani bukan hanya tentang bagaimana sebuah usaha dapat bertahan dan berkembang. Ada harapan agar usaha tersebut mampu membuka lebih banyak kesempatan, memperluas manfaat, serta menjadi bagian kecil dari gerakan kepedulian di tengah masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, nilai sebuah kopi bukan hanya terletak pada rasa yang tertinggal di lidah. Ada cerita di balik prosesnya, ada tangan-tangan yang ikut berkarya, dan ada kepedulian yang turut disisipkan.
Di Kopi Kawani, setiap seruput bukan sekadar menikmati kopi—tetapi juga menjadi bagian dari semangat berbagi.(ASR)









