Panumbangan, Kejayaan yang Terlupakan

Panumbangan, Kejayaan yang Terlupakan - infokowasi sukabumi

Irman “Sufi” Firmansyah (Yayasan Dapuran Kipahare)

Pertamakali memasuki perkebunan Panumbangan di Bojong Lopang, seolah melihat perkebunan yang tidak terurus. Tak nampak nama perkebunan terpampang seperti lazimnya di perkebunan lain, padahal perkebunan ini sempat dikelola PT. Bumiloka Swakarya. Di kanan kiri jalan masuk Nampak pohon kako (coklat) yang sebagian sudah berbuah, tak nampak keramaian para pekerja saat tim Yayasan Dapuran Kipahare (YDK) melewati bangunan yang disebut pabrik coklat. Ada selentingan bahwa perkebunan yang berlokasi di desa Panumbangan kecamatan Jampang Tengah itu, HGU-nya belum diperpanjang sejak berakhir empat tahun lalu karena penolakan warga, namun perusahaan masih beroperasi dalam skala kecil.

Panumbangan, Kejayaan yang Terlupakan - infokowasi sukabumi

Keberadaan perkebunan Panumbangan awalnya tidak lepas dari munculnya UU agraria tahun 1870 yang membolehkan sewa lahan hingga 75 tahun (erpfacht). Namun perkebunan Panumbangan pada mulanya tidak disewa secara erpfacht, karena hanya disewa selama 20 tahun sejak 17 Agustus 1877. Dua puluh tahun kemudian raja teh Sinagar, Eduard Julius Kerkhoven (Eduard), menyewanya secara erpfacht dan menanami sebagian lahan untuk komoditas teh dan kopi, sedangkan sisanya digunakan untuk peternakan sapi dan kuda pacu. Salah satu jenis kuda yang terkenal dari Panumbangan adalah Sandelwood Baggst Bagong, kuda yang agak kecil namun berlari cepat. Karena itulah Sinagar sempat dijuluki sebagai sarangnya kuda Priangan.

Eduard kemudian mempersiapkan putranya, Adriaan Rudoph Willem Kerkhoven (Adrian) untuk mengelola Panumbangan secara professional. Sang putra, kelahiran Sinagar Cibadak tahun sudah disekolahkan ke Belanda sejak usia 4 tahun hingga lulus dari Politeknik Shool di Delft dan pada 1891 dan memperoleh gelar diploma teknik sipil. Tidak lama kemudian ia bergabung dengan perusahaan kereta api di Belanda, kemudian pindah ke Amerika dan bekerja di Pennsylvania Steel Corporation, setelah itu ia loncat lagi ke New Jersey Steel and Iron Corporation. Bakat pekerjanya memang sudah terlihat, selama tinggal di Amerika, ia juga membangun Java Village dan membawa gamelan Sari Oneng dalam World Columbian Exposition di Chicago tahun 1893 dan bertindak sebagai manajernya.

Panumbangan, Kejayaan yang Terlupakan - infokowasi sukabumi

Selain perkebunan, Panumbangan juga dikenal sebagai tempat berburu rusa, bahkan hal ini sudah berlangsung sejak abad ke-17 dalam masa pemerintahan Aria Wiratanudatar III dari Cianjur. Perburuan ini juga menarik minat Pangeran Austria (Frans Ferdinand) untuk berburu ke Panumbangan bersama Bupati Cianjur pada bulan April 1893. “Setelah berkendara dengan kereta kuda selama tiga jam, akhirnya kami tiba di Panumbangan berupa pondok berburu bupati yang terbuat dari bambu. Pemilik yang ramah menawari kami camilan terlebih dahulu sebelum makan dan  persiapan terakhir dengan para pemburu. Di atas tebing gunung, kami melihat kerumunan besar pengendara kuda yang berkumpul dengan indah dari lembah sampai ke puncak gunung.Tempat berburu kali ini adalah pegunungan tanpa pepohonan, yang sepenuhnya tertutup rumput alang yang tinggi, tempat para pengendara berbaris menuju kami. Di sepanjang jalan setapak dihiasi bambu-bambu yang menawarkan pemandangan ke hutan ilalang..” demikian petikan catatan Frans Ferdinand dalam Franz Ferdinand’s World Tour.

Baca Juga :  Hasil Test Swab Massal Ungkap 3 Kasus Baru di Kota Sukabumi

Sekembalinya ke Sinagar tahun 1894, Adrian kemudian menjadi asisten ayahnya hingga tahun 1901. Sesuai bidang keahliannya, dia kemudian mendirikan perusahaan Kerkhoven & Mazel (kemudian dirubah menjadi Soenda Biro Teknis). Hal ini berlangsung sejak tahun 1901 hingga Eduard meninggal tahun 1905. Secara resmi Adrian mengelola penuh Panumbangan sejak tahun 1906 dan merubah komoditas utama menjadi kina, namun komoditas teh, kopi dan karet dalam porsi kecil masih dipertahankan. Panumbangan memang cukup istimewa seolah kawah candra dimuka, administrator terkenal seperti W.Th. Boreel pernah bekerja disini sebelum puncak karirnya di Parakansalak.

Panumbangan, Kejayaan yang Terlupakan - infokowasi sukabumi

Tim YDK kemudian bertemu dengan Pak Aan, Ketua RT setempat yang mengetahui keberadaan kuburan Adrian. “Saya tahunya kuburan itu dari bapak saya yang ngadunungan (bekerja) kepada tuan Kerkhoven, letaknya di bukit dan disebut Kerkof” ujar Pak Aaan menjelaskan. Tim YDK kemudian diantar menapaki jalanan berbatu yang dihiasi rimbunnya pepohonan coklat, perjalanan sekitar 10 menit berjalan kaki menuju bukit yang dimaksud. Jika melihat foto-foto Panumbangan dimasa lampau, kondisi sekarang sudah jauh bertolak belakang. Pada masa jayanya Panumbangan adalah tempat yang indah, rumahnya dihiasi taman dan bunga-bunga, jalan menuju pabrik dan perkebunan terlihat rapi dan bersih. Saat ini kompleks rumah sudah menjadi kebun dengan sisa-sisa puing tak berharga. Tak bisa dipungkiri, saat itu Adrian memang mampu menyulap Panumbangan menjadi perkebunan produktif yang menguntungkan. Produksi Kina dari Panumbangan sangat diperhitungkan, bahkan Adrian diangkat menjadi menjadi pengawas kina nasional dan menjadi ketua Soekaboemische Landbouw Vereeniging (perkumpulan perkebunan se-priangan) selama bertahun-tahun.

Adrian menikmati hasil perkebunan Panumbangan secara maksimal, hasil keuntungan dia pergunakan membiayai hobinya yang mahal. Tak berbeda dengan sang ayah, Adrian juga sangat terkenal tak hanya dibidang perkebunan, namun juga dalam perlombaan balap kuda yang sering dia menangkan. Bersama mendiang ayahnya dia menyewa lahan di Cikepuh sebagai lokalisasi perburuan Banteng. Adrian dikenal sangat kaya dan tercatat sebagai pemilik mobil pertama di Priangan dengan plat nomor D1 (waktu itu belum ada pembagian karesidenan seperti sekarang). Adrian memiliki White Steam Car bermesin uap dengan batu bara yang menggunakan transmisi rantai, kendaraan yang saat itu sangat langka, mahal dan mewah. Perannya yang cukup banyak dalam berbagai hal diakui pemerintah, dia mendapatkan bintang Orde Oranye-Nassau dari Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1928.

Baca Juga :  Bimtek HPPKS Guna Pengetahuan Luas

Panumbangan, Kejayaan yang Terlupakan - infokowasi sukabumi

Namun agak berbeda dengan SInagar yang sering dikunjungi para pelancong, karena lokasinya yang jauh dan sulit, Panumbangan jarang dikunjungi tamu dari luar daerah. Pengunjungnya bisa dihitung jari misalnya Bosscha (namanya diabadikan pada teropong bintang) dan Jan Klientjes seorang pelukis dunia terkenal, serta Frans Ferdinand Pangeran Austria. “Jalan berkelok-kelok tanpa putus melintasi perbukitan, punggung bukit dan puncak, kemudian turun ke lembah-lembah hijau dan kemudian menanjak kembali dengan curam menuju pegunungan yang terjal. Jalan itu sepertinya tidak pernah dikendarai meski lebar, tetapi hanya digunakan oleh pengendara dan pejalan kaki. Pemeliharaan jalan sangat sulit karena lereng yang curam dan hujan deras di wilayah ini”. Catatan Frans Ferdinand menyiratkan betapa sulitnya jalur menuju Panumbangan

Lokasi kuburan berada diatas bukit dan harus dilewati melalui padang ilalang dan perkebunan singkong. Sepanjang perjalanan menaiki bukit, tim YDK disuguhi pemandangan indah perbukitan khas Panumbangan yang dipenuhi ternak dan perkebunan. Memori seolah terbawa pada masa kejayaan Panumbangan sebagai perkebunan besar, dalam salah satu foto tempo dulu bahkan ada macan tutul yang dipelihara dan menjadi hiburan anak-anak Adrian. Tangan dingin Adrian memang berhasil merubah Panumbangan menjadi perkebunan besar, dia memodernisasi turbin dekat Curug Cipatala untuk kebutuhan listrik seluruh perkebunan. Sejak tahun 1914 Panumbangan sudah menggunakan truk modern untuk pengiriman komoditas menggantikan gerobak kuda. Adrian sendiri sangat terbuka mempersilahkan perkebunannya untuk dipergunakan bidang-bidang lain. Seorang peneliti bernama Edbrink pernah dibantu Adrian melakukan penelitian selama beberapa minggu, hasilnya ditemukan kapak batu, fosil bagian tulang gajah dan banteng purba dekat Gua di pasir Tonjong. Selain itu Panumbangan sempat digunakan sebagai area percobaan pembuatan penerbangan pesawat terbang pada bulan Juni 1930. Sang pembuat pesawat, GA Watrin, dibantu oleh Mr. Ch Bleiker dari Sinagar, berhasil menerbangkan pesawat sejauh 50 meter plus 25 meter terbang tinggi. Selain itu juga Panumbangan sempat menjadi tempat syuting film dimasa kolonial berjudul “Terang Bulan” yang melibatkan bintang lokal pada bulan Mei 1937.

Panumbangan, Kejayaan yang Terlupakan - infokowasi sukabumi

Lokasi yang disebut “kerkof” itu sudah dipenuhi perkebunan singkong dan ilalang, namun tanda kuburan berupa gundukan tembok yang tertutupi ilalang masih terlihat. Tim YDK mencoba membersihkan ilalang yang menutupinya, “Dulu sempat ada orang Belanda datang berkunjung hingga kuburan ini dipagar, namun sudah lama mereka tak datang” ungkap Pak Aan menjelaskan. Ironis memang pada akhir hidupnya Adrian tidak diperlakukan dengan baik, hal ini karena pecahnya perang dunia kedua dan Jepang datang menyerang. Tak jelas akhir hidupnya apakah dia tetap tinggal di Panumbangan karena sakit atau masuk kamp konsentrasi, dalam akte kematian bernomor 8482/1946, tercatat dia meninggal pada tanggal 15 Maret 1944 di rumah sakit Saint Lidwina (sekarang RS Samsudin SH/Bunut) pada usia 75 tahun. Dalam kondisi cengkraman pasukan Jepang, bisa jadi jasadnya dikuburkan secara sederhana oleh para pekerjanya dibukit tersebut, karena berbeda dengan kuburan Belanda yang biasanya megah dan indah. Sementara anak-anaknya sebagian masuk kamp konsentrasi, dan sebagian lagi tewas dengan beragam cerita. Dari delapan anaknya, ada tiga orang yang cukup terkenal, Adriaan Paul menjadi pilot tempur dan mendapatkan medali Broonze Cross atas aksi heroiknya di Perang Dunia II, sedangkan Joan Julian tewas di kamp interniran di Fukuoka Jepang setahun sebelum kematian Adriaan, sementara Anda Kerkhoven (Melisande Tatiana) ditembak mati oleh NAZI Jerman setahun sesudah kematian Adriaan, yaitu 19 Maret 1945 dan menjadi pahlawan di Belanda.

Baca Juga :  Video Conference Dengan Mendagri, Bupati Sukabumi Sepakat Putus Matarantai Covid-19

Pasca kemerdekaan, keluarga Kerkhoven sudah tidak dapat mengelola Panumbangan dan kembali ke Belanda sesudah dibebaskan dari kamp interniran. Panumbangan sempat menjadi medan pertempuran dan dibom pesawat Belanda saat agresi militer Belanda karena menjadi sarang pejuang dimana pabrik senjata dan peralatan perang para pejuang dibuat disitu. Perkebunan sempat dijalankan kembali oleh pasukan pendudukan Belanda, namun kerap diganggu oleh para pejuang dengan cara menembaki truk-truk yang hendak mengirim komoditas ke perusahaan Mandaling. Pasca pasukan Belanda hengkang, tak terdengar lagi gaung perkebunan Panumbangan yang kemudian dikuasai pemerintah hingga kemudian menjadi HGU dan dikelola oleh swasta.

Panumbangan, Kejayaan yang Terlupakan - infokowasi sukabumi

Sejarah bisa hilang namun bisa pula diciptakan, kejayaan Panumbangan sangat memungkinkan diangkat kembali melalui konsep wisata bersejarah. Melalui penelusuran ke Curug Cipatala dan gua turbin, Tim YDK merekomendasikan konsep one stop shop tourist destination, di mana Panumbangan bisa menawarkan pariwisata yang serba ada. Karena sudah tersedia perkebunan coklat, kisah sejarah yang luar biasa, alam perbukitan yang indah, kuburan pendiri perkebunan, gua turbin buatan serta air terjun yang indah. Kedepannya bisa dibangun kembali replika gedung yang menyimpan foto-foto serta peninggalan perkebunan atau sejarah Panumbangan pada umumnya, serta, tentu, saja gerai penjualan mulai dari aksesoris, persewaan peralatan, kuda, kuliner, hingga penginapan seperti layaknya tempat wisata professional yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat. Paket wisata perkebunan bersejarah tersebut akan memerlukan para pemandu lokal dan menjadi saluran pemberdayaan masyarakat tentang heritage tourism yang sedang booming pada masa sekarang.

Laporan : M.Roby

Editor : WD

Print Friendly, PDF & Email

Redaksi : redaksi@infokowasi.com


Marketing : marketing@infokowasi.com

1 KOMENTAR

  1. Sungguh suatu rentetan sejarah yang mengagumkan…kilas balik ini membuktikan bahwa betapa berhargnya tanah Indonesia ini ,khususnya tanah Sukabumi.
    Sosok-sosok yang pernah memberitahu orang sedunia bahwa ada tanah indah dan subur di Asia yang patut dikunjungi dan diolah hingga manfaat.
    Dengan kedermawanan gabungan lokal,karena Andrian lahir di sini meski ayahnya berdarah Belanda. Kecintaannya pada ” tanah air” keduanya ini sekental darahnya,karena meski telah melanglang dunia mencari ilmu dan bekerja,akhirnya memilih kembali ke tanah kelahirannya….
    Sungguh paparan sejarah yang sangat jelas dan membawa pembaca seolah ke jamannya,diperjelas dengan photo-photo yang orisinil.
    Salut kang Irman “Sufi” Firmansyah atas tulisannya ( seperti biasa😊).
    Sukses terus YDK
    Update terus infokowasi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here