Infokowasi.com – Rabu, 29 Januari 2025 – Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Genta Pangan Mandiri (GPM) Kecamatan Kebonpedes menggelar rapat konsolidasi. Pertemuan yang berlangsung di Homebase GPM Kebonpedes ini menghadirkan berbagai pihak, termasuk pengurus KSB, koordinator desa (Kordes) dan dusun (Kordus) se-Kecamatan Kebonpedes, pakar pertanian, serta pengusaha lokal.
Membangun Kolaborasi dan Kemandirian Pangan
Ketua DPC GPM Kebonpedes, Sulaemi, dalam pemaparannya menekankan pentingnya kolaborasi antara pengurus kecamatan, Kordes, Kordus, pemerintah desa, dan para mitra tani untuk memperkuat organisasi dan ketahanan pangan di wilayah tersebut.
“Kami berkomitmen untuk menyediakan kebutuhan Dapur Genta dari sektor pertanian, perikanan, dan peternakan. Selain itu, untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pengurus, kami telah merancang skema gaji di atas UMR Sukabumi, ditambah insentif motivasi,” ungkap Sulaemi.
Ia juga menegaskan bahwa modal kerja akan segera disalurkan setelah deklarasi resmi yang akan dilaksanakan pada 8 Februari 2025 di Bekasi.
Strategi Menuju Lumbung Pangan Nasional
Ir. Asep, seorang pakar pertanian yang turut hadir sebagai pemateri, menjelaskan strategi dalam menciptakan lumbung pangan nasional. Salah satu poin utama yang ia tekankan adalah penerapan zeolit untuk meningkatkan kualitas tanah pertanian serta penggunaannya di sektor perikanan dan peternakan.
“Petani diwajibkan menggunakan zeolit sebagai media oksidasi untuk meningkatkan hasil panen. Selain itu, kami mendorong pemerintah agar mendukung penanaman padi dari benih basmati karena memiliki potensi hasil yang lebih tinggi dan harga jual yang lebih baik,” jelasnya.
Evaluasi Pendataan Mitra Tani dan Masyarakat Miskin
Selain membahas strategi pertanian, pertemuan ini juga mengulas evaluasi pendataan mitra tani dan masyarakat miskin. Kordes H. Kosasih menegaskan bahwa peran Kordes dan Kordus sangat vital dalam proses ini.
“Pendataan harus dimaksimalkan agar program ini berjalan dengan baik. Bagi petani yang tidak memiliki SPPT, mereka dapat membuat surat pernyataan tidak sengketa dari desa atau RT/RW setempat,” katanya.
Diskusi: Solusi bagi Petani dan Peternak
Dalam sesi diskusi, peserta rapat mengajukan beberapa pertanyaan terkait implementasi program, di antaranya:
1. Apakah modal kerja Rp7 juta per hektar cukup?
Petani tidak akan menerima uang tunai, melainkan seluruh kebutuhan pertaniannya sudah disediakan oleh GPM.
2. Apakah ada biaya hidup bagi petani selama menunggu panen?
GPM Kebonpedes akan memberikan pinjaman tanpa bunga kepada anggota mitra tani selama masa tunggu panen.
3. Bagaimana sistem bagi hasil peternakan?
Sistem bagi hasil bisa disesuaikan dengan waktu penjualan ternak, dengan skema yang serupa dengan padi, yaitu 30%-30%-40%.
4. Kapan target pendataan mitra tani dan masyarakat miskin harus selesai?
Semakin cepat semakin baik, agar program dapat segera dijalankan.
Kesimpulan dan Langkah Tindak Lanjut. Rapat ini menghasilkan beberapa kesimpulan utama:
1. Petani tidak menerima uang tunai, melainkan seluruh kebutuhan pertaniannya disediakan oleh GPM.
2. Pendataan mitra tani dan masyarakat miskin harus segera dimaksimalkan.
3. Kolaborasi antara petani, pengusaha lokal, pemerintah desa, dan wirausahawan muda menjadi kunci keberhasilan program.
4. Pengurus kecamatan, Kordes, dan Kordus akan menerima gaji di atas UMR sebagai bentuk apresiasi dan motivasi.
Sebagai langkah tindak lanjut, GPM Kebonpedes akan mempercepat pengajuan SK produk resmi untuk branding, serta merumuskan juknis/SOP agar program berjalan lebih terstruktur.
Rapat ditutup pada pukul 17.30 WIB dengan harapan seluruh peserta dapat mengikuti tindak lanjut program yang akan diinformasikan melalui Kordes masing-masing.
Dengan strategi yang semakin matang dan sinergi yang terus diperkuat, GPM Kebonpedes optimistis dapat menjadi garda terdepan dalam menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan di wilayah Sukabumi.(My Koentjir63)









